Sabtu, 24 November 2012

Menunggu untuk disakiti

Lebam terakhir berada tepat di punggung kanannya, itu yang paling berwarna dari yang lainnya. Biru dengan sedikit nila dan bercak merah disekelilingnya, bekas hantaman sebuah benda tumpul yang lumayan keras mengenai punggungnya. Kursi kesayangannya telah patah tak berbentuk, hanya satu batangnya yang masih tertinggal utuh, batang kayu penahan punggung hangatnya saat dia menghabiskan waktu menunggu dia yang datang.

Batang itu juga yang menghantam punggungnya penuh perih suara, dan setidaknya kenangannya akan batang kayu itu bertambah satu lagi di malam itu. Walaupun sebuah kenangan pahit tapi akan membekas selamanya baginya, tidak seperti kenangan manis yang dia rasakan dan terus menghilang.

Aku menyayangimu dengan cukup bertahan.

Kecupan singkat mendarat di kiri sudut bibirnya, tidak tepat memang tapi itu sudah cukup untuknya. Kali ini pagi begitu semerbak dengan ranum putik mawar yang sudah bertengger di samping wajahnya. Lelaki itu telah pergi menuju realita kisahnya dan dia masih terbaring kaku dengan selimut kusutnya serta tumpuk lembaran merah di atas buffet yang lelaki itu tinggalkan.

Sekian lama dia berbaring hanya untuk menguatkan raga dari siksa nikmat semalam, kemudian memilih untuk merenggangkan otot-ototnya dengan membersihkan semua sisa kursi yang hancur berserakan. Batang kayu utuh akan kenangan pun disimpannya dalam celah lemari pakaiannya. Membersihkan diri di bawah pancuran air deras menjadi rutinitas berikutnya, sekaligus berkaca dan menikmati warna-warni kelu sisa kenangan semalam.

Matanya tertuju pada lembar kertas berbeda di atas tumpukan merah pada buffet-nya.
"Beli salep penghilang luka memar. Aku akan ke luar negeri untuk beberapa hari, terima kasih untuk semalam."
Dan surat itu pun berakhir, berakhir pula di tong sampah di kamar itu.

Taxi sudah menunggunya di bawah lobi apartemen, dia pun telah sampai di ambang pintu lobi dengan style necis penuh brand terkenal. Salah satu pegawai apartemen yang sepertinya sudah sangat akrab pun menyapanya.
"Selamat pagi Tuan semoga hari anda menyenangkan."
"Pagi Dopi, kamu juga. Oh ya, tolong kamar saya kamu bersihkan dan ambilkan kursi baru untuk buffet saya." Sembari memberikan beberapa lembaran merah yang diambilnya dari dompet genggamnya, seraya beranjak pergi menuju taxi yang telah menunggunya.
"Terima kasih Tn. Erdan, akan saya selesaikan semua sebelum anda pulang." Dia sudah terbiasa dengan hal itu dan menjadi pelayan favorit Erdan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar