Rabu, 14 November 2012

Citra Kerudung Koloni Muda

Temaram maghrib menyapa bumi milik-Nya, adzan berkumandang dengan merdu di mesjid terdekat dari tempat ini. Warung kopi modern ternama di Kota Banda Aceh masih menunjukkan geliatnya hanya saja pintu diare bawah ditutupsekilas agar menaati peraturan yang telah ditetapkan di provinsi ini. Satu persatu dari mereka yang masih mengimani agamanya menghadap Yang Maha Esa pada mushalla yang telah tersedia di tempat itu.

Satu pandangan yang menggelitik saya selaku penikmat tempat pada maghrib itu adalah koloni wanita berkerudung apik (red: hijabers). Mereka tidak langsung mengambil wudhu dan melaksanakan tugas mereka selaku hamba, malahan asyik berfoto-foto ria disalah satu sudut ruangan. Respect saya sangat baik saat melihat mereka datang dengan dandanan trendi khas muslimah muda dengan tingkat kepercayaan diri melampaui ambang batas, namun setelah apa yang dilakukan setelahnya membuat saya berpikir cukup banyak dalam eksistensi pemakaian hijab pada remaja putri.

Jika masih berpendapat, mungkin mereka lagi "kotor", memang wanita kalau lagi "dapat" bisa kompak gitu satu koloni???. Saya lagi malas berkompilasi dengan banyak pendapat mungkin saat itu, tapi semakin ganjeng otak ini karena pada saat saya shalat mereka malah tidak berhenti untuk sekedar tertawa dengan suara yang cukup lantang. Posisi duduk mereka memang tepat disebelah mushalla jadi tak hayal riuh mereka dapat mengganggu kenyamanan peristiwa sakral manusia dengan Tuhannya.

Citra untuk mereka para penikmat hijab secara absah menjadi berkurang dengan adanya mereka yang hanya memakainya untuk sebatas trend masa kini tapi tidak dari dalam kalbu. Saya sendiri sangat menyukai mereka para wanita yang bisa menampilkan diri sebagai muslimah dengan gaya yang sesuai umur namun tidak melupakan tartib pemakaiannya. Itu secara tidak langsung akan memperlihatkan bagaimana kerudung itu bisa sangat nyaman dan bagus jika dipakai dengan benar, tapi lain jika yang terpampang adalah seperti gambaran koloni wanita pertama tadi, bisa jadi pepatah "gara-gara nilai setitik, rusak susu sebelanga" benar adanya.

Jadi teringat pada hal lainnya...

Sudah sering terlihat dengan mata ini bagaimana provinsi yang sering disebut serambinya Negara Suci itu menjaga ketat para warganya dalam berbusana sehari-hari. Tapi belum terpikirkan bagaimana jika kamu yang berada di dalam daerah tersebut merasakan apa yang sedang digembar-gemborkan tidak demikian yang terjadi dalam masyarakat. Kerudung tipis membalut kepala dengan gontai menelaah helai rambut, baju melinkar tipis menyaingi kulit ari berada tepat diseputaran pangkal lengan hingga pergelangannya. Sekarang, style atau tipe-tipe baju seperti itu sedang "in" dikalangan mereka seperti brokat halus tanpa pelapis dan sifon lembut terawang nampang. Suka atau tidak ya begitulah adanya. Tertutup atau tidak ya terima saja untuk melihatnya.

Terkadang terbersit dalam pikiran saya mungkin sebagai warga, mengapa harus memaksakan jika warganya sendiri belum siap untuk menerima kodratnya sebagai hamba. Apa gunanya jika mempercayai kerudung sebagai penutup kepala yang hakiki tapi menjuntaikan rambut dari dalamnya menjadi tren yang makin digemari. Kalau saya lebih baik mereka tidak memakainya sama sekali daripada membuat orang lain berdosa, bukan karena melihat ya, tapi lebih kepada mencela terhadap si pelaku. Stigma yang bermain disini, positif atau negatif ya tergantung nafsu dari yang lihat. Pendapat yang mengatakan kalau tidak di rubah sekarang bagaimana nantinya, dan itu kami mengaturnya dalam setiap peraturan, lah percuma aja diatur dalam peraturan, kalau dirumah yang ngatur sendiri masih berlaku hal yang sebaliknya bukan.

Bukannya tidak menyukai apa yang telah ditetapkan, sangat bangga malah, membuat sesuatu yang biasa menjadi khas didaerahnya dan ini berawal dari kejadian yang tak terduga. Tapi bukankah semuanya harus berasal dari hati masing-masing tanpa paksaan pihak asing.

Sepertinya tertawa membuat segalanya terlihat menakjubkan dan menyedihkan disaat yang bersamaan.

Baik dan yang terbaik itu berbeda bukan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar