Sabtu, 22 September 2012

4-2-0 (Distance)

4 Tahun secukupnya ...

Kita sudah terpisah jarak selama itu. Selama itu, aku merindukanmu dalam setiap spasi panjang setelah pertemuan kita sebelumnya. Selalu berkesan, saat kita bertemu di belakang seluruh penghuni silsilah keluarga dalam terbit hingga fajarnya, karena kau tahu setelah pemilik panas permukaan bumi pergi menjauh dari garis lintang ini, aku harus kau relakan pergi, begitu juga bayanganku.

Kau mendekapku erat, berulang kali ku tepis prasangka untuk menyamakanmu dengan seekor ular yang sedang melilit sebatang ranting keropos dengan begitu lihat dan mengikat. Aku menyukaimu lebih dari aku menyukai diriku dalam perih sebuah rasa. Seharusnya kau lebih mengetahuinya. Percayalah, aku menjaga perasaan yang kau titipkan itu yang kau katakan dengan lantang di depan penghulu alam saat senja mulai diselimuti lautan biru yang sedikit kelam.

Semua pinta dalam jeritan nafasmu ku turuti benar, walau sebagian terdengar lebih seperti rengekan balita yang belum menemukan asi yang legit untuk tidur nyenyaknya. Jika prototipe berupa kamera ukuran mikro bisa masuk ke dalam retina dan menyambungkannya padamu disana, mungkin aku orang pertama yang memasangnya dengan sertifikasi cinta darimu. Tahukah kau, bagaimana aku membawa plakat namamu dalam jidatku setiap harinya, hanya untuk sekedar menunjukkannya kepada setiap lelaki yang mulai ku alpakan bentuknya selain dirimu. (ah)

Apakah ini permainan. Jika ingin berhenti terserah kapan walau itu masih di tengah permainan, dan jika ingin kembali main tinggal memulainya kembali. Aku hampir bosan atau mungkin sudah.

Bayangkan saja sebuah bangku berpoles emas di bagian kerangkanya dan dudukan dengan suede kulit sapi balita berwarna merah kelam bermotif abstrak dipatri menggunakan benang sutra bertengger dengan mewahnya. Tahta itu punyamu, berdiri tegar dalam ruang sebuah hati yang mulai mempertanyakan cintanya.

Aku menunggumu mempercayai ikrarmu.

Kau seperti obat yang menyembuhkan sakitku sekaligus memberikan indikasi efek samping lain pada sembuhku.

Ini sudah 4 tahun secukupnya, cukupkah drama ini?

There's only so many songs that I can sing 
To pass the time
And I'm running out of things to do 
To get you off my mind
 
All I have is this picture in a frame 
That I hold close to see your face everyday

With you is where I'd rather be
But we're stuck where we are
And it's so hard, you're so far
This long distance is killing me

It's so hard, It's so hard 
Where we are, where we are 
You're so far 
This long distance is killing me 
It's so hard it's so hard 
Where we are, where we are 
You're so far 
This long distance is killing me


------------------------------------------------


2 tahun tak terkira

Matahari tak menyediakan waktu sebanyak yang kami mau, mungkin aku lebih tepatnya. Weker dari seluruh penunjuk waktu selalu berteriak riuh saat hangat mulai terasa, tepat disini, di organ yang mereka namai hati. Kau?

Dua desa yang terpisah sungai dengan arus yang cukup deras tidak bisa saling bercengkrama karena jembatan yang tidak memungkinkan untuk dilewati hanya dua utas tali yang melintang disana.

Keegoisan hati untuk sebuah rindu yang cukup lama bisa luluh lantak begitu saja hanya karena dua indera yang sedang bekerja. Mataku bisa berbicara banyak dibandingkan mulut untuk mengucapkan seribu kata rindu hanya dengan melihatmu. Telingaku bisa berteriak kencang dibandingkan mulut untuk berkata satu kata rindu hanya dengan mendengarmu bicara. Mulutku tak berarti apa-apa dibandingkan keduanya. Kau?

Jika tidak dia yang melintasi utas tali itu untuk bertemunya di desa seberang, maka dia yang akan melakukan itu untuk bertemunya di ujung tali yang lainnya. Binar air sungai selalu bersorak dalam riak saat melihat dia atau dia menyusuri utas tali untuk bertemu.

Senyummu yang selalu ingin ku lihat dalam nyata dan igauan mimpi. Senyum itu pula yang menghantarkanku jatuh tepat di bibir jurang bernama. Senyum yang berhalusinasi timbul kala berat pikul tak seperti biasanya. Kau?

Desa itu akan bermufakat untuk saling bertemu akrab, merampungkan jembatan yang mereka idamkan guna penduduknya. Dan sebagai pengingat, tentang kisah dua sejoli yang hanyut saat hasrat ingin bertemu terbentur putus utas tali penyambung rasa.

Aku diam merindukanmu. Kau?

There's only so many songs that I can sing
To pass the time



------------------------------------------------

 
0 (masih)

Percuma, karena aku sudah letih. Menunggumu tanpa diketahui. Mengharapkan tanpa dihiraukan. Menginginkan tanpa disadari. Menyukai tanpa sebuah awalan di- yang datang dari mulutmu. Karena aku melalukannya dalam diam dan kau terlalu pongah untuk melihat itu semua.

Sudah beberapa ijazah kesabaran yang aku terima untuk sikap ini.

Dan aku memutuskan untuk menyerah. Menyerah untuk mencari giat. Menyerah untuk taraf letih yang ini. Menyerah untuk kembali hanya menunggu. Menyerah untuk kembali pasrah pada sikap pesimis akan sebuah kepingan pelengkap.

Kau tidak tahu. Aku tidak memberitahumu.

Seperti pungguk merindukan bulan. Bagaimana kalau bulan juga merindukan pungguk yang melihatnya terus dari bawah sana. Bagaimana jika bulan juga kehilangan pungguk yang setia menemaninya ditengah kesepian malam. Seperti bulan merindukan pungguk.

Aku membenahinya sendiri. Dan itu masih.
Jarak darimu belum bermula.
Masih (0)

I wish that you were here with me 
(You were here with me) 
But we're stuck where we are (Oh) 
It's so hard (Oh) 
You're so far (Oh)

Can you hear me crying? 
(Ooohhh... ooohhhh...) 
Can you hear me crying? 
(Ooohhh... ooohhhh...) 
Can you hear me crying? 
(Ooohhh... ooohhhh...)

With you is where I'd rather be 
(Where I'd rather be) 
But we're stuck where we are (Oh) 
And it's so hard (Oh) 
You're so far (Oh) 
This long distance is killing me



credit title :
Bramadita A.P.
Song by Bruno Mars – Long Distance




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar