Selasa, 17 Mei 2011

BURUK-rasi

Seorang ibu yang diminta anaknya untuk bisa mengantarkannya ke rumah sakit terdekat tampak ogah-ogahan menerima ajakan si anak. Si anak sebenarnya berniat untuk memeriksakan kembali matanya yang sudah terasa kabur. Ketika ditanya mengapa si Ibu bersikap demikian, Ibu hanya berkata “Malas kali ngurusnya”. Ya, demi mendapatkan resep obat yang lebih murah dari yang seharunya kita memerlukan birokrasi panjang yang berbelit. Setelah antri panjang dari Puskesmas yang jaraknya lumayan jauh untuk mendapat surat rujukan dari salah satu kartu layanan kesehatan publik, kembali si Ibu harus mengantri pada administrasi kartu layanan tersebut pada rumah sakit yang di rujuk. Begitulah seterusnya jika ingin mendapatkan pelayanan yang belum tentu baik tapi dengan system birokrasi yang hampir membuat pingsan seorang nenek karena sakit yang dideritanya.

Tergelitik ide dalam hati, apa yang sebenarnya harus dilakukan. Apakah Puskesmas yang harus dibangun dekat dengan Rumah Sakit atau sebaliknya, sehingga setiap kecamatan dinegara ini memiliki Puskesmas yang berdampingan dengan Rumah sakit. Ini hanya pemikiran dangkal saja. Karena sebenarnya bagaimana birokrasi yang bisa mempercepat sebuah proseslah yang harus dipikirkan secara bersama-sama, karena ternyata tidak hanya sebatas surat rujukan ini saja, tapi pada berbagai instansi atau lembaga lain di negara ini, baik dalam ruang lingkup kecil seperti pengurusan KTP hingga permasalahan besar yang terkait pada bidang politik, ekonomi, kriminal, HAM, dan sebagainya. Saya sebagai penonton setia setiap tayangan berita di media televisi kadang merasa Gemas/Geram ketika melihat sebuat masalah yang terus ditayangkan setiap harinya namun tidak menemukan penyelesaian, padahal sepikiran saya jika saja semua pihak yang merasa berkepentingan bertemu dan mengutarakan apa yang menjadi masalahnya dan mencari solusinya bersama, maka masalah tersebut akan tutup usia. Tapi ini dia seni Birokrasi di negara ini, “alon-alon asal kelakon”.

Kadang saya termotivasi dengan ide pemerintah yang memberikan layanan satu pintu untuk mempersingkat sebuah proses birokrasi pengurusan sebuah kartu publik, hingga saya tertarik untuk membuat rumah yang mengambil filosofi satu pintu nantinya. Namun semakin kemari kenapa gaungnya tidak terdengar lagi ya, semoga saja program yang demikian masih terus berlangsung. Dan saya kira kita juga harus terus belajar dari negara lain yang lebih maju dalam masalah birokrasi pengurusan sesuatu tanpa dipersulit, karena ini bisa jadi kelebihan negara tersebut dimata wisatawan yang ingin berbuat baik di negara ini.

Semoga harapan akan sebuah biokrasi yang lebih baik nantinya akan segera terwujud, dan saya juga akan menjalankan misi yang sama jika nantinya berada pada posisi yang bisa merubah ke burukrasi-an tersebut. Kadang orang berujar “lebih mudah dikatakan daripada bertindak”, dan saya berpendapat “Kenapa tidak terus bertindak daripada terus berujar”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar