Sabtu, 21 September 2013

Di Rumah Makan

Malam kala itu tidak begitu gelap, purnama datang disela-sela awan dan mengalahkan cercah gemintang. Segelas teh tarik dingin berada tepat dihadapan saya, tinggal menunggu senampan nasi dan pelengkapnya, beres sudah makam malam saya. Belum berapa lama saya duduk di cafe ini tapi ada saja yang menarik untuk dipikirkan, mulai dari pasangan yang selalu menghina diantara kecut tawa, meja dengan kapasitas layar yang melebihi colokannya, juga seorang pekerja yang cukup letih dengan aktivitasnya namun menyempatkan diri untuk sekedar menyicip segelas kopi.

Ada yang berbeda diujung sana, raut wajah yang acap kali sering saya dapati pada cermin ruang kerja, mimik muka yang menggelambir dalam pantulannya, hidupnya sedang diombang-ambing lautan kertas alphabet bisik saya dalam hati. Acuh, karena saya tak mau alih-alih mengomentarinya malah sifat saya sendiri yang menganga ingin dicela.

Sekali dua kali aku menengok ke arah lelaki itu, sudah agak mendingan pikirku, rautnya tak sekelam tadi, sinar lampu saja sudah berani menfarat pada pelipisnya, itu pertanda baik.

Sembari gigi ini mengunyah asupan-asupan karbohidrat dalam bentuk yang tidak asing, otak saya tak ingin tinggal diam, terus menerka-nerka apa yang baru saja saya lihat. Bagaimana kehidupannya? Apakah ia sudah berkeluarga? Mata kuliah mempersulitnya menuju toga? Atau kehidupan asmara tlah merenggut bahagia harinya?, berulang-ulang kalimat itu merapal pada isi tempurung kepala ini, terganggu?, ah sudah biasa. Entah mengapa raut kerut penuh sembelit itu mengingatkan saya akan kesusahan, kemurungan, kesengsaraan, dan segala sesuatu dari negatifnya sebuah bahasa, padahal bisa saja dia sedang berpikir bagaimana caranya bisa menang pada permainan poker, atau bisa saja dia sedang menikmati erotisme sebuah film pergumulan, atau malah sedang mengingat padanan kata dalam lembar teka-teki silang.

Saya terlalu banyak memikirkan yang tidak penting, mungkin otak ini akan memberontak karenanya, tapi bukankah itu yang terkadang sering terjadi dalam hidup?, karena sifat terlalu sibuk ingin mengenal orang lain sampai bablas tak mengenal diri sendiri.

Menyeruput sisa minuman yang hanya menyisakan dua pecahan es, hidup terlalu singkat untuk tidak mengenal diri sendiri bisik hati.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar