Jumat, 14 September 2012


LAHE
[Suka Yang Bodoh]



Lecutan pecut mulai mengganas saat bulir dalam hati bergejolak pada waktu yang tidak seharusnya hingga apa yang disebut keseimbangan tidak lagi berada dalam sifat penuh urakan.

The night when the sound of your
Breathing blew over to my ears
On this summer night that is not cooling down,
If I’m with you and the city lights,
It’s enough for me
Because I can see you
Because I can see all of you
Just with my fingertips

Hanya wujud yang belum tentu bernama sama melintas, dan mungkin hanya berbentuk bayangan, dia mengetahuinya dengan sangat jelas. Itu dia. Jika berpikir ini kelainan dalam ambigu seseorang dalam mengenali sosok, bersiaplah terkejut ketika kamu melihat itu memang orang yang dimaksud.

Entah bagaimana rasanya memiliki hati yang meletus tanpa melewati status waspada dan siaga namun tiba-tiba saja magma cair keluar menembus apa yang pernah dan terus dibendung sebelumnya. Pasrah. Dia hanya berkata terima kasih untuk tidak melihatku, perih wanita yang menggila menghadapi hatinya.

Bertemu sekali, sepersekian detik, itupun hanya sebatas lewat tanpa bersisian, karena ketakutannya akan terjadi hal-hal yang diinginkan hati dalam pandora bisa membuatnya kehilangan akal nantinya. Sudahlah. Pertemuan detik itu membuat segala yang termaktub dalam tubuh per-detailnya seperti terjiplak langsung kedalam memori wanita penaruh hati. Dia bisa mengingatnya hingga bisa menyamai atau membedakan sesuatu dari dia yang memakainya dengan mereka, orang lain yang memakainya.

Don’t be shaken, look at my eyes,
They are filled with only you
I don’t want to wake up
I hope this dream lasts forever
We’re beautiful like lovers in a novel

Malam, seperti baru siang tadi dia berhasil mengunci ingatan itu dan membuang segala yang bersentuhan dengan barang bukti kedasar dari dasar yang paling dasar di jurang terdalam. Percuma. Empat menit setelah rinai hujan melepas keheningan buram diluar jendela, dia terjun bebas seperti merasakan sayap tumbuh begitu saja dan mengoyak belantara dengan kaisnya, hingga kunci pembuka ingatan tampak dan membuka semuanya kembali. Lirih hujan pun beralih kedalam jendela tepat dipipinya.


I feel for you and it feels like
I’m intoxicated with you
Kiss me like it’s the first time,
Like it’s the last time

Ini lebih dari 1 atau 2 kali 365 hari dalam kalender yang membuatnya selalu tersengat lebah dalam satuan daya petir saat teringat, tertatap, tersisi atau jenis awalan ter- lainnya. Cukup. Dia sudah terlalu lelah mengamatimu, lebih dari banyaknya seorang peneliti melihat tikus putih percobaannya agar berubah seperti yang diinginkan.

I will say it more slowly
O, I love you, only you, forever
For real, for real

Pertahanan terakhir atau mungkin senjata terakhir yang dia miliki sudah lama diluncurkan, bukan untuk menyerang dengan akhir penuh kemenangan atau adanya kekalahan dan lara diakhir kisah. Ini lain. Mengutarakan dengan gamblang apa yang dirasakan dengan intonasi cukup untuk membuat lidah mulai terasa kelu dan melepaskan massa yang menggantung lama dihatinya, itu lebih seperti pertahanan. Pertahanan untuk mulai melepaskan fana dan kembali menunggu yang sejati. Dia bebas.

Dia tidak memperdulikan dia. Selesai. Dia telah melipat dan menarik apa yang terulur atau malah terurai burai begitu saja. Aku layak untuk yang lebih.

Yang ku tahu suka, bukan cinta. 


credit title :
Bramadita A.P.
Song by Brown Eyed Girl – One Summer Night
Storytelling by @sririfqati

Jumat, 07 September 2012

[Review] Kutipan KalaKali

Ada beberapa kalimat atau paragraf yang paling saya suka di Novel terbaru GagasMedia yaitu KalaKali, dari duet penulis nyentrik favorit saya Valiant Budi Yogi (@vabyo) dan Windy Ariestanty (@windyariestanty). Dan beruntung'a, kali ini edisi TTD mereka berdua berhasil meluncur ketangan unik ini. ((:

Kala Kali : Mari bermain-main dengan waktu


RAMALAN DARI DESA EMAS :
"Matahari memang foto model yang menakjubkan. tidak pernah banyak gaya, tetapi punya sejuta pesona."
"Hidup mah dinikmatin ajah. Banyak-banyak berbuat baik, jadi pas mati juga insya Allah dalam keadaan baik. Lagian, kalo hidup malah fokus mikirin mati terus, bisa jadi yang mati duluan malah orang-orang di sekitar kita, kan? jadi mending perhatiin mereka yang sayang kamu."
"Ternyata yang superbiasa itu yang aku butuhkan di saat luar biasa ini."
"Berdo'a terus, jangan percaya yang khayalan, ya? Percaya Tuhan aja. mati mah kayak kejutan, gak usah ditungguin."
"Satu tak akan cukup, seribu tak akan selesai."
"Dan setiap kenangan itu hadir, ingin rasanya membalikkan langkah."
"Ah, bayangan itu (yang dulu) akan kusimpan selalu dalam ruang memori, tak akan tergantikan dengan yang kupandang saat ini."
BUKAN CERITA CINTA :
"Bukan berapa kali. Harusnya, pertanyaanmu adalah seperti apa rasanya kalau aku jatuh cinta."
"Terkadang orang bersikap realistis karena sadar ia tak punya banyak pilihan, bukan?"
"... mencintai itu butuh lepas dari rasa khawatir. Butuh lepas dari rasa takut dicampakkan. Takut ditinggalkan. Takut tak berbalas. ..."
"Seperti pacaran dengan bayanganmu sendiri. Kemiripan justru menjadi sekat yang memisahkan kami. ... seperti berdiri di seberang sungai dan hanya saling melihat satu sama lain. tak ada seorang pun yang berpikir untuk menyeberang dan menghilangkan jarak."
"Cinta memang tidak seharusnya membuat cemas. Cemas karena mencintai sesuatu, rasanya bukan cinta. Bisa saja itu obsesi. Atau rasa takut kehilangan barang yang disukai, seperti anak kecil yang takut mainan kesayangannya diambil orang."
"... kata-kata membutuhkan tanda baca agar lebih eanak dibaca. Koma menciptakan ritme dalam kalimat."
"Buatku, manusia yang meragukan kemampuannya mencintai adalah manusia yang berjalan menjauhi apa yang menyelimutinya ketika lahir. Setiap manusia lahir dengan kemampuan mencintai secara utuh. Jadi keraguannya justru membuat aku bertanya-tanya, apa yang sebenarnya pernah ia alami."
"Nalar manusia bisa menciptakan konsep tentang cinta. Tapi, jatuh cinta selalu datang tiba-tiba dan tanpa peringatan. Bahkan tak jarang, manusia jatuh berkali-kali, tanpa bisa menghindarinya. Tanpa mampu menebaknya." 
"Photography doesn't create something from nothing. Sebagaimana kebenaran yang tak bisa diciptakan, tetapi bisa ditemukan asal kita mau terus mencari."
"... sendiri dan kesepian itu memang berbeda meski kadang secara serampangan orang kerap menganggap sama." 
"... anggap saja aku sedang mencoba banyak cara mencintai. Dan ternyata, belum berhasil. Aku pikir, bukan caranya yang salah. Hanya saja, cara yang kami pakai kurang tepat untuk satu sama lain." 
"Tanpa sadar, kita menyukai objek yang mirip kita atau membuat kita teringat kepada sesuatu. Itu juga yang terjadi ketika seseorang mengambil foto."
"Tak pernah ada cara yang tepat untuk mencintai. Yang disebut tepat adalah ketika aku dan kamu saling mencintai dengan cukup." 

Sampai sekarang masih bingung kenapa judul'a dinamakan KalaKali apa karena banyak'a pengulangan pada waktu penceritaan ??? mungkin hanya mereka yang tahu.

Tetapi novel'a asyik, Mas Vabyo selalu membawa alur cerita baru dalam tulisan terbarunya (dan saya masih mengira ini efek Gemini yang dia punya ((:, haha) sedangkan Mbak Windy, ini kali kedua saya banyak novel'a setelah Life Traveler, dan ini lebih menyenangkan (Mbak saya rasa sifat Bumi sedikit ada di saya, haha).

Mas dan Mbak nyentrik semoga bisa 'nelurin' buku lagi secepatnya. Dan saya mendapatkan edisi TTD'a kembali. Amin...


Kamis, 26 April 2012

Pelecehan Nilai Rupiah



Sudah dua kali dalam satu bulan ini, pelecehan sedikit pede diri dari pemanfaatan nilai uang terjadi di Kota ini. Tidak dalam derajat memalukan juga, tapi cukup membuat nganga dua katup bibir ini. Apakah karena kondisi ekonomi Kota ini yang mengalami Inflasi melebihi kota lainnya atau memang masyarakat sudah ini sudah tidak menghargai nilai pecahan dibawah lima ratus rupiah.


Case Pertama, Parkiran salah satu warkop daerah Hotel ternama di Kota ini. Memang saat sial ketika mampir hanya untuk bertemu kawan di malam hari dan belum memiliki satuan tukar karena tidak keburu singgah di mesin penyerahan uang. Merogoh kocek, tas, dan dompet cukup dalam saat itu mencari serpihan uang yang sekiranya mungkin tinggal dalam selipan kertas pembebat. And nothing, hanya tersisa recehan seratus dan dua ratus rupiah yang saat dikumpulkan cukup membentuk nominal dengan nilai yang cukup untuk jasa parkiran. Tapi, saat hasrat hendak memberikan setungkup recehan tersebut pada yang berhak, Dia berkata dengan nada falset'a "Uang itu gak laku lagi sekarang..." dengan mimik muka tanpa bentuk, hanya tatapan mata ini yang kosong menatap muka itu. Tanpa perduli, pergi ku mungkin akan lebih baik pada saat itu. Dalam pikir seperti ada yang salah antar keadaan tersebut, apa mungkin saya yang tidak peka akan keadaan Kota ini, atau hal ini hanya terjadi pada parkiran warkop tersebut. Ah yasudahlah.

Case Kedua, perjalanan menuju rumah rehat di Kota ini, seperti biasa menyempatkan waktu untuk mampir pada sebuah warung dagang untuk membeli sedikit persiapan menuju lapar yang tentu waktu kedatangannya. Hanya membeli sedikit belanjaan dengan total pengeluaran lima ribu lebih lima ratus rupiah saya memberikan lembaran lima ribuan selembar dan kepingan dua ratus serta tiga koin seratusan. Tapi, si Ibu berkata saat ku hendak memberinya, "Uda gak mau lagi orang pecahan seratusan dek.." SHOCK, segitu nistakah pecahan tersebut sekarang hingga tak bernilai di mata masyarakat Kota ini, walaupun ini bukan kali kedua saya mendengar alasan tersebut. Kemudian si Ibu melanjutkan dengan memberi sebuah alasan yang masih tidak masuk akal, "Cuma di Super Market yang masih terima, tapi gak apa Ibu terima, taruh saja di meja". Glek.

Sepertinya nanti saya akan banyak membeli di Market dengan bongkahan receh yang masih tersisa dirumah, atau harus mulai membiasakan pergi ke BI untuk selalu menukar semua recehan yang didapat selama padanan waktu dengan nominal yang lebih besar.

Pikir sarap saya, jika Kota ini sudah tidak bisa menerima nilai dari pecahan tersebut, sudah sebaiknya sebagai otoritas pemegang andil dalam menentukan nilai uang (red. BI) tidak lagi  mengeluarkan bentuk terbaru dari nilai tersebut, atau sebaiknya dihapuskan saja nominal tersebut dalam harga-harga. Ya ini cuma pemikiran sarap saya.

Jadi teringat akan rencana pemerintah untuk memangkas nilai uang, dan secara tidak langsung hal ini sudah terjadi di Kota ini.

Senin, 16 April 2012

Lebar Tapi Tak Lapang

Lebar, setidaknya lebih dari bentuk fisik saya yang masih Slim *lebih slim dari iklan salah satu produk minuman diet yang berjalan diantara dua manekin. Kata ini berujung pada sebuah bentuk fisik yang berkembang.


Lapang, masih berharap sesuatu tempat yang sering dikatakan Lapangan itu akan dapat menerangkan arti dari kata ini seutuhnya. Meskipun saat ini sebuah lapangan belum pasti memiiki maksud seperti apa yang kita pikirkan.


Jum'at kedua di Bulan ke Empat, Tahun ini.


Khutbah bergema dengan syahdu memasuki seluruh indera pendengar semua manusia di ruangan suci penuh pilar itu, masalah mendengar atau tidaknya itu hanya urusan personal indovidu itu dengan Tuhan nya. Sunat Jum'at itu telah selesai saat Ujar Salam terucap dari bibir seorang Imam dan para Makmum nya, ketika itu pula tradisi salam bersalaman antara sisi sejajar dilakukan *Niat untuk bermaaf-maafan.


Raga demi raga keluar berdesakan dengan jiwa penuh dengan kata sifat, saya rasa itu bisa menjelaskan semua dari perasaan mereka. Namun berbeda kiranya saat satu paras yang cukup tenang, gelisah saat disaat yang bersamaan. Dan seorang dengan tubuh lebih ramping dari kelompoknya menghampiri.


"Woi, Kenapa !!"
"Selop aku Hilang, sepertinya tertukar ma orang lain."
"Trus tuh selop siapa, lu pake?"
"Aku ambil yang lain, yang sama bentuknya ..."
"Tapi, ukurannya kan beda, kaki lu aja kesempitan."
"Ah, yang penting sama, ketimbang aku pulang nyeker."
"Terserah lu lah, Dosa'a kan di elu."
"Hahha ..."


Bentuk Lebar itu, mungkin "Daging dengan banyak keuntungan" atau malah "Lemak dengan banyak keburukan". Perkiraan Lebar akan memiliki Hati yang lebih luas menjadi sebuah Nila setitik yang jatuh dalam Belanga Susu, Saat saya bertemu onggokan nyawa itu.


Sifat untuk menerima dengan keluasan hati agar bisa memaafkan dan menerima lebih susah didapatkan "Mungkin" pada saat seperti itu. Tapi, bukan sesuatu yang sulit kan untuk dicoba.

Minggu, 15 April 2012

2 Imam 1 Remedial

Maghrib di Rumah Suci ...


Masbuk, niat'a memang tidak shalat di Mesjid terdekat karena ingin dirumah saja, apa daya ketika Aliran Listrik Nasional masih dalam keadaan trauma untuk bencana di senja hari masih padam hingga maghrib itu. Dan aku memutuskan untuk hijrah dan melakukan ibadah itu secara masal. Wudhu ku sudah dalam batas raka'at pertama, dan memaksaku untuk mengantri dalam stase kedua.


Ku penuhkan jajaran terluar disebelah kiri baris tersebut. Shalat ku untukMu dan kewajibanku. Suara gema setelah Imam berujar nyata terdengar di kanan indera pendengar ku. Ya, ejaan itu cukup membuat ku terusik. Bukankah saat seorang manusia sedang menyembahNya manusia lain tidak boleh bergumam didekatnya walaupun itu membaca Ayat Suci dari Nya ...


Seperti dua Imam sedang melafalkan kewajibannya namun dalam perbedaan bunyi. Satu untuk rukun ku dan satu yang lainnya lebih untuk mengganggu ku. Ku rasa khusyuk ku sudah tidak terlihat disini, dan untuk kesopanan tak mungkin ujar ini akan menghentikannya.


Salam terakhir, salam ku untukNya dan salam untuk Imam kedua dengan hati meminta maaf atas jeritan hati sebelumnya. 


Maghrib dengan remedial yang semoga kudapatkan kekhusyukan'a.

Si Kecil dan Kotak Amal

Jum'at kedua di Bulan April.


Tidak terlalu "manis" atau lucu, tapi tidak menumbuhkan rasa bosan juga untuk betah berlama-lama melihat parasa wajahnya. Orange, ya si kecil memakai orange arabian style untuk hari spesial ini. Tidak ingin duduk sendiri, Paha angkuh terus bertahan menopang beratnya. Si kecil bersama Ayahnya.


Kubus solid itu terus berjalan melewati serangkaian persinggahan akan sentuhan kulit. Tidak menunggu lama, Kayu bersudut itu hadir didepannya. 


"Ayo masukin uang yang ayah kasi tadi"..., 
"Iya, Yah" 


jawaban lembut itu mendayu seperti alunan nyiur. 


Ku Berpikir cukup lama, mengapa kubus bergerak tanpa kaki itu tak kunjung datang menyentuh ku !!. Ku Berpaling dan menatap wajah putih itu lagi, Si Kecil kesusahan untuk memasukkan Amal'a. 


"Ayo cepat, bentar lagi shalat'a mulai"... 
"Bentar Ayah"... 
"Loh kok ada lagi, Uang dari siapa ?"... 
"Yang tadi punya Ayah, ini titipan dari Bunda, dan ini punya Nenek"... 


Sssss, desir itu masuk dalam rongga jiwa ini. Rongga yang tadi'a tertutup tanpa knop, kini terbuka lega kembali.


"Ya sudah dimasukin, mau Ayah bantu?"...
"Gak usah Ayah, adek kan mau dapat pahala yang banyak"... 


Senyum Si Kecil, senyum Ayah, dan senyum ku. Bahkan sebuah kotak kubus dengan sedikit lubang kecil diatasnya tersirat menjadi senyuman indah.

Senin, 02 April 2012

pelaja-RAN pen-TING


Pelajaran penting ...

Setidaknya saya bukan manusia yang hanya memakan buku dengan lahapnya dan menjadikan perpustakaan sebagai rumah pribadinya. Ini bukannya sebuah pandangan sinis untuk mereka yang hanya menyukai hal yang berbau pendidikan dalam jalur psikopat melainkan sekelumit kritikan agar mereka lebih mengenal dunia dalam bentuk tak berwujud.

Ya, ilmu kan tidak seterusnya harus dicari dalam bentuk lembaran-lembaran huruf bertema, bagaimana langkah kita untuk mendapatkan ilmu itu juga menjadi sebuah pelajaran yang bisa kita ingat, misal; mencari buku sebuah materi yang sulit dicari dimana-mana dan secara tidak sadar kita dipaksa untuk terus mencarinya lewat berbagai cara, and yeah, itu juga ilmu.

Banyak pelajaran penting yang sering manusia dapatkan dalam hidup mereka di sepanjang pergantian umurnya.  Namun terkadang ketidaksadaran mereka akan arti "pengalaman itu ilmu terbaik" membuat segelintir orang mencari apa yang sebenarnya sudah di pelajari nya dari alam. Hanya butuh menarik seutas tali ingatan dalam otak untuk mengajarkan kembali bagaimana pengalaman itu bertindak dengan nyata.

Itu ilmu.