Tampilkan postingan dengan label Menjuntai Kata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Menjuntai Kata. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 September 2012

Memberi Harapan

Waktu sudah muak melihat kita terus bermain perasaan tanpa balasan. Dia tertawa renyah sesekali garing, melihat kita berdua menghabiskan waktu bersama dalam berbagai kesempatan namun tanpa sebuah kejelasan antara aku dan kamu.

Berjalan saja, aku yang selalu menanti senyummu pada setiap pertemuan kita, dan kau yang selalu berlari kecil mengikuti irama detak jantungmu yang kian menghentak saat aku telah berada tepat didepanmu. Pertemuan singkat menjadi kamuflase indah dalam sebuah kenangan yang terus terukir dan diingat, dalam skala sedih dan sesal karena ini menjadi sebuah permainan yang terus berlanjut.

Melihatmu, dan kau pun begitu. Mata ini tidak bisa berbohong seperti yang sering mereka katakan tentang hati yang berbicara melalui sinar mata, begitulah mungkin dengan mataku, dan sepertinya tidak salah jika aku juga melihatnya dari matamu. Binar-binar halus penuh bintang yang seharusnya bisa mengisi malam namun datang di siang hari dan mengajakku bermain disana. Matamu surga rasa bagiku.

Kau ingat bagaimana hujan membantu kita untuk saling mendekat, hujan yang turun sendu di pertemuan malam itu, pertemuan yang seharusnya bukan kita rencanakan tapi mereka dan alam menunjukkan kemampuannya. Berada dekat dipunggungku, hangat menjalar di tengah dingin malam pada tubuh penuh getaran ini, yang mungkin tersamarkan oleh gigil dingin cuaca malam itu. Sepertinya aku mendengar degup itu lagi, degup yang tidak normal dengan ritme cepat, dan itu berasal tepat di belakang punggungku.

Never thought it’ll be this way
and I know I’d never be the same
yeah I know life goes on
but still I’m tryna figure it out
being without you baby
you know it’s killing me to say
I’ll never see your face again or living without you
Girl how am I suppose to lose you baby

Menunjukkan rasa degan gamblang didepan parasmu membuat nyaliku ciut digondol binatang atau serangga. Semuanya hilang begitu saja, hilang dan meninggalkan semu panik penuh kecelakaan fisik berikutnya. Keberanianku memakan hubungan yang tak terucap ini.

Ketakutan sepertinya masih menyelimuti hati ini, hati yang dulu pernah tersayat dengan ketakutanku juga, hati yang mulai terbiasa dengan kesendirian, hati yang belum menemukan kepercayaan diri untuk terbang dan merengkuh bintang dalam balutan awan. Bisakah.

Alasan ku menjadi harapan sepertinya. Tanpa ku sadari kau telah tersakiti untuk ini semua, untuk semua pemberitahuan yang tidak berupa lisan dan tulisan. Begitupun aku, yang menahan aib hati hingga mungkin ....

Semua akan berakhir bahagia atau hanya meninggalkan nestapa menggila.

Rainy days rainy days 
now that you’ve gone far away
my raindrops pouring down my eyes
you know I’ll never be okay
goes fade away fade away
don’t you know I’m missing you
here it slowly falls again
every day and night
as I open my eyes



credit title :
Bramadita A. P.
Song by One Way - Rainy Days (english version)



Bagi mereka yang terus memberi untuk menyakiti, beranilah untuk tidak takut ...

Sabtu, 22 September 2012

4-2-0 (Distance)

4 Tahun secukupnya ...

Kita sudah terpisah jarak selama itu. Selama itu, aku merindukanmu dalam setiap spasi panjang setelah pertemuan kita sebelumnya. Selalu berkesan, saat kita bertemu di belakang seluruh penghuni silsilah keluarga dalam terbit hingga fajarnya, karena kau tahu setelah pemilik panas permukaan bumi pergi menjauh dari garis lintang ini, aku harus kau relakan pergi, begitu juga bayanganku.

Kau mendekapku erat, berulang kali ku tepis prasangka untuk menyamakanmu dengan seekor ular yang sedang melilit sebatang ranting keropos dengan begitu lihat dan mengikat. Aku menyukaimu lebih dari aku menyukai diriku dalam perih sebuah rasa. Seharusnya kau lebih mengetahuinya. Percayalah, aku menjaga perasaan yang kau titipkan itu yang kau katakan dengan lantang di depan penghulu alam saat senja mulai diselimuti lautan biru yang sedikit kelam.

Semua pinta dalam jeritan nafasmu ku turuti benar, walau sebagian terdengar lebih seperti rengekan balita yang belum menemukan asi yang legit untuk tidur nyenyaknya. Jika prototipe berupa kamera ukuran mikro bisa masuk ke dalam retina dan menyambungkannya padamu disana, mungkin aku orang pertama yang memasangnya dengan sertifikasi cinta darimu. Tahukah kau, bagaimana aku membawa plakat namamu dalam jidatku setiap harinya, hanya untuk sekedar menunjukkannya kepada setiap lelaki yang mulai ku alpakan bentuknya selain dirimu. (ah)

Apakah ini permainan. Jika ingin berhenti terserah kapan walau itu masih di tengah permainan, dan jika ingin kembali main tinggal memulainya kembali. Aku hampir bosan atau mungkin sudah.

Bayangkan saja sebuah bangku berpoles emas di bagian kerangkanya dan dudukan dengan suede kulit sapi balita berwarna merah kelam bermotif abstrak dipatri menggunakan benang sutra bertengger dengan mewahnya. Tahta itu punyamu, berdiri tegar dalam ruang sebuah hati yang mulai mempertanyakan cintanya.

Aku menunggumu mempercayai ikrarmu.

Kau seperti obat yang menyembuhkan sakitku sekaligus memberikan indikasi efek samping lain pada sembuhku.

Ini sudah 4 tahun secukupnya, cukupkah drama ini?

There's only so many songs that I can sing 
To pass the time
And I'm running out of things to do 
To get you off my mind
 
All I have is this picture in a frame 
That I hold close to see your face everyday

With you is where I'd rather be
But we're stuck where we are
And it's so hard, you're so far
This long distance is killing me

It's so hard, It's so hard 
Where we are, where we are 
You're so far 
This long distance is killing me 
It's so hard it's so hard 
Where we are, where we are 
You're so far 
This long distance is killing me


------------------------------------------------


2 tahun tak terkira

Matahari tak menyediakan waktu sebanyak yang kami mau, mungkin aku lebih tepatnya. Weker dari seluruh penunjuk waktu selalu berteriak riuh saat hangat mulai terasa, tepat disini, di organ yang mereka namai hati. Kau?

Dua desa yang terpisah sungai dengan arus yang cukup deras tidak bisa saling bercengkrama karena jembatan yang tidak memungkinkan untuk dilewati hanya dua utas tali yang melintang disana.

Keegoisan hati untuk sebuah rindu yang cukup lama bisa luluh lantak begitu saja hanya karena dua indera yang sedang bekerja. Mataku bisa berbicara banyak dibandingkan mulut untuk mengucapkan seribu kata rindu hanya dengan melihatmu. Telingaku bisa berteriak kencang dibandingkan mulut untuk berkata satu kata rindu hanya dengan mendengarmu bicara. Mulutku tak berarti apa-apa dibandingkan keduanya. Kau?

Jika tidak dia yang melintasi utas tali itu untuk bertemunya di desa seberang, maka dia yang akan melakukan itu untuk bertemunya di ujung tali yang lainnya. Binar air sungai selalu bersorak dalam riak saat melihat dia atau dia menyusuri utas tali untuk bertemu.

Senyummu yang selalu ingin ku lihat dalam nyata dan igauan mimpi. Senyum itu pula yang menghantarkanku jatuh tepat di bibir jurang bernama. Senyum yang berhalusinasi timbul kala berat pikul tak seperti biasanya. Kau?

Desa itu akan bermufakat untuk saling bertemu akrab, merampungkan jembatan yang mereka idamkan guna penduduknya. Dan sebagai pengingat, tentang kisah dua sejoli yang hanyut saat hasrat ingin bertemu terbentur putus utas tali penyambung rasa.

Aku diam merindukanmu. Kau?

There's only so many songs that I can sing
To pass the time



------------------------------------------------

 
0 (masih)

Percuma, karena aku sudah letih. Menunggumu tanpa diketahui. Mengharapkan tanpa dihiraukan. Menginginkan tanpa disadari. Menyukai tanpa sebuah awalan di- yang datang dari mulutmu. Karena aku melalukannya dalam diam dan kau terlalu pongah untuk melihat itu semua.

Sudah beberapa ijazah kesabaran yang aku terima untuk sikap ini.

Dan aku memutuskan untuk menyerah. Menyerah untuk mencari giat. Menyerah untuk taraf letih yang ini. Menyerah untuk kembali hanya menunggu. Menyerah untuk kembali pasrah pada sikap pesimis akan sebuah kepingan pelengkap.

Kau tidak tahu. Aku tidak memberitahumu.

Seperti pungguk merindukan bulan. Bagaimana kalau bulan juga merindukan pungguk yang melihatnya terus dari bawah sana. Bagaimana jika bulan juga kehilangan pungguk yang setia menemaninya ditengah kesepian malam. Seperti bulan merindukan pungguk.

Aku membenahinya sendiri. Dan itu masih.
Jarak darimu belum bermula.
Masih (0)

I wish that you were here with me 
(You were here with me) 
But we're stuck where we are (Oh) 
It's so hard (Oh) 
You're so far (Oh)

Can you hear me crying? 
(Ooohhh... ooohhhh...) 
Can you hear me crying? 
(Ooohhh... ooohhhh...) 
Can you hear me crying? 
(Ooohhh... ooohhhh...)

With you is where I'd rather be 
(Where I'd rather be) 
But we're stuck where we are (Oh) 
And it's so hard (Oh) 
You're so far (Oh) 
This long distance is killing me



credit title :
Bramadita A.P.
Song by Bruno Mars – Long Distance




Jumat, 14 September 2012


LAHE
[Suka Yang Bodoh]



Lecutan pecut mulai mengganas saat bulir dalam hati bergejolak pada waktu yang tidak seharusnya hingga apa yang disebut keseimbangan tidak lagi berada dalam sifat penuh urakan.

The night when the sound of your
Breathing blew over to my ears
On this summer night that is not cooling down,
If I’m with you and the city lights,
It’s enough for me
Because I can see you
Because I can see all of you
Just with my fingertips

Hanya wujud yang belum tentu bernama sama melintas, dan mungkin hanya berbentuk bayangan, dia mengetahuinya dengan sangat jelas. Itu dia. Jika berpikir ini kelainan dalam ambigu seseorang dalam mengenali sosok, bersiaplah terkejut ketika kamu melihat itu memang orang yang dimaksud.

Entah bagaimana rasanya memiliki hati yang meletus tanpa melewati status waspada dan siaga namun tiba-tiba saja magma cair keluar menembus apa yang pernah dan terus dibendung sebelumnya. Pasrah. Dia hanya berkata terima kasih untuk tidak melihatku, perih wanita yang menggila menghadapi hatinya.

Bertemu sekali, sepersekian detik, itupun hanya sebatas lewat tanpa bersisian, karena ketakutannya akan terjadi hal-hal yang diinginkan hati dalam pandora bisa membuatnya kehilangan akal nantinya. Sudahlah. Pertemuan detik itu membuat segala yang termaktub dalam tubuh per-detailnya seperti terjiplak langsung kedalam memori wanita penaruh hati. Dia bisa mengingatnya hingga bisa menyamai atau membedakan sesuatu dari dia yang memakainya dengan mereka, orang lain yang memakainya.

Don’t be shaken, look at my eyes,
They are filled with only you
I don’t want to wake up
I hope this dream lasts forever
We’re beautiful like lovers in a novel

Malam, seperti baru siang tadi dia berhasil mengunci ingatan itu dan membuang segala yang bersentuhan dengan barang bukti kedasar dari dasar yang paling dasar di jurang terdalam. Percuma. Empat menit setelah rinai hujan melepas keheningan buram diluar jendela, dia terjun bebas seperti merasakan sayap tumbuh begitu saja dan mengoyak belantara dengan kaisnya, hingga kunci pembuka ingatan tampak dan membuka semuanya kembali. Lirih hujan pun beralih kedalam jendela tepat dipipinya.


I feel for you and it feels like
I’m intoxicated with you
Kiss me like it’s the first time,
Like it’s the last time

Ini lebih dari 1 atau 2 kali 365 hari dalam kalender yang membuatnya selalu tersengat lebah dalam satuan daya petir saat teringat, tertatap, tersisi atau jenis awalan ter- lainnya. Cukup. Dia sudah terlalu lelah mengamatimu, lebih dari banyaknya seorang peneliti melihat tikus putih percobaannya agar berubah seperti yang diinginkan.

I will say it more slowly
O, I love you, only you, forever
For real, for real

Pertahanan terakhir atau mungkin senjata terakhir yang dia miliki sudah lama diluncurkan, bukan untuk menyerang dengan akhir penuh kemenangan atau adanya kekalahan dan lara diakhir kisah. Ini lain. Mengutarakan dengan gamblang apa yang dirasakan dengan intonasi cukup untuk membuat lidah mulai terasa kelu dan melepaskan massa yang menggantung lama dihatinya, itu lebih seperti pertahanan. Pertahanan untuk mulai melepaskan fana dan kembali menunggu yang sejati. Dia bebas.

Dia tidak memperdulikan dia. Selesai. Dia telah melipat dan menarik apa yang terulur atau malah terurai burai begitu saja. Aku layak untuk yang lebih.

Yang ku tahu suka, bukan cinta. 


credit title :
Bramadita A.P.
Song by Brown Eyed Girl – One Summer Night
Storytelling by @sririfqati