Sabtu, 24 November 2012

Menunggu untuk disakiti

Lebam terakhir berada tepat di punggung kanannya, itu yang paling berwarna dari yang lainnya. Biru dengan sedikit nila dan bercak merah disekelilingnya, bekas hantaman sebuah benda tumpul yang lumayan keras mengenai punggungnya. Kursi kesayangannya telah patah tak berbentuk, hanya satu batangnya yang masih tertinggal utuh, batang kayu penahan punggung hangatnya saat dia menghabiskan waktu menunggu dia yang datang.

Batang itu juga yang menghantam punggungnya penuh perih suara, dan setidaknya kenangannya akan batang kayu itu bertambah satu lagi di malam itu. Walaupun sebuah kenangan pahit tapi akan membekas selamanya baginya, tidak seperti kenangan manis yang dia rasakan dan terus menghilang.

Aku menyayangimu dengan cukup bertahan.

Kecupan singkat mendarat di kiri sudut bibirnya, tidak tepat memang tapi itu sudah cukup untuknya. Kali ini pagi begitu semerbak dengan ranum putik mawar yang sudah bertengger di samping wajahnya. Lelaki itu telah pergi menuju realita kisahnya dan dia masih terbaring kaku dengan selimut kusutnya serta tumpuk lembaran merah di atas buffet yang lelaki itu tinggalkan.

Sekian lama dia berbaring hanya untuk menguatkan raga dari siksa nikmat semalam, kemudian memilih untuk merenggangkan otot-ototnya dengan membersihkan semua sisa kursi yang hancur berserakan. Batang kayu utuh akan kenangan pun disimpannya dalam celah lemari pakaiannya. Membersihkan diri di bawah pancuran air deras menjadi rutinitas berikutnya, sekaligus berkaca dan menikmati warna-warni kelu sisa kenangan semalam.

Matanya tertuju pada lembar kertas berbeda di atas tumpukan merah pada buffet-nya.
"Beli salep penghilang luka memar. Aku akan ke luar negeri untuk beberapa hari, terima kasih untuk semalam."
Dan surat itu pun berakhir, berakhir pula di tong sampah di kamar itu.

Taxi sudah menunggunya di bawah lobi apartemen, dia pun telah sampai di ambang pintu lobi dengan style necis penuh brand terkenal. Salah satu pegawai apartemen yang sepertinya sudah sangat akrab pun menyapanya.
"Selamat pagi Tuan semoga hari anda menyenangkan."
"Pagi Dopi, kamu juga. Oh ya, tolong kamar saya kamu bersihkan dan ambilkan kursi baru untuk buffet saya." Sembari memberikan beberapa lembaran merah yang diambilnya dari dompet genggamnya, seraya beranjak pergi menuju taxi yang telah menunggunya.
"Terima kasih Tn. Erdan, akan saya selesaikan semua sebelum anda pulang." Dia sudah terbiasa dengan hal itu dan menjadi pelayan favorit Erdan.

Jumat, 23 November 2012

Pedestrian Pagi

Pagi membuka cakrawala dengan dingin menyengat raga, gemetar dahan rindang bergemuruh lirih saat angin menyusup picik diantara batang-batangnya. Semburat warna laut naik keatas langit dengan indah menuju warna yang lebih muda.

Dengan berbalut kain pembebat letih diatas kepalanya, seorang ibu beranjak pergi dari kediamannya menopang delapan botol penuh ramuan unik hasil kerja semalam. "Bakul rejeki" katanya. Selempang batik yang lebih berharga dari kepunyaan mahkota ratu sedang melilit tegas diantara punggung dan dadanya, seperti dia mempertahankan rejeki agar tidak lari kemana.

Pemuda berkulit gelap meninggalkan pub penuh bingar pagi ini padahal musik telah padam sejak tiga jam lalu, dia hanya tak ingin kembali pada realita hidupnya terlalu cepat dan memilih untuk tetap dalam khayalan cerianya walau untuk tiga jam saja.

Ketukan beraturan sepasang kaki remaja menjejak tanah, mulai menggerayangi pagi disebuah jalan perkampungan. Sedikit tawa, obrolan, dan cemas berpadu dalam wajah-wajah segar diatas seragam putih abu-abu tersebut, membicarakan segalanya mulai dari kisah sinetron yang mereka tonton semalam hingga tugas sekolah yang baru mereka ingat di pagi ini. Tidak lagi beraturan, mereka sudah berlari limpung menuju sekolah mereka sesaat setelah melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 07.45 WIB.

Tangis menghempas hening di sebuah rumah yang tadinya masih terlihat sunyi, seorang bayi sedang meronta memekik telinga para tetangga karena kenyamanannya akan pulas tidur terganggu kehendak pencernaan. Popok yang terpakai sudah terlalu basah baginya dan bukan tugasnya untuk menggantinya sendiri dengan yang baru.

Tetes demi tetes itu telah kering di pagi harinya, hanya jejak putih yang tertinggal. Senyum mengawali hari karena ia yakin duka telah terhempas pergi seperti kelam malam berganti terang benderang walau bekas itu masih ada di ujung matanya tepat di atas senyuman pagi.

Cicit meradu sendu mengingat malam yang mulai terbang, pagi menanti siang yang memuja malam.

Rabu, 14 November 2012

Citra Kerudung Koloni Muda

Temaram maghrib menyapa bumi milik-Nya, adzan berkumandang dengan merdu di mesjid terdekat dari tempat ini. Warung kopi modern ternama di Kota Banda Aceh masih menunjukkan geliatnya hanya saja pintu diare bawah ditutupsekilas agar menaati peraturan yang telah ditetapkan di provinsi ini. Satu persatu dari mereka yang masih mengimani agamanya menghadap Yang Maha Esa pada mushalla yang telah tersedia di tempat itu.

Satu pandangan yang menggelitik saya selaku penikmat tempat pada maghrib itu adalah koloni wanita berkerudung apik (red: hijabers). Mereka tidak langsung mengambil wudhu dan melaksanakan tugas mereka selaku hamba, malahan asyik berfoto-foto ria disalah satu sudut ruangan. Respect saya sangat baik saat melihat mereka datang dengan dandanan trendi khas muslimah muda dengan tingkat kepercayaan diri melampaui ambang batas, namun setelah apa yang dilakukan setelahnya membuat saya berpikir cukup banyak dalam eksistensi pemakaian hijab pada remaja putri.

Jika masih berpendapat, mungkin mereka lagi "kotor", memang wanita kalau lagi "dapat" bisa kompak gitu satu koloni???. Saya lagi malas berkompilasi dengan banyak pendapat mungkin saat itu, tapi semakin ganjeng otak ini karena pada saat saya shalat mereka malah tidak berhenti untuk sekedar tertawa dengan suara yang cukup lantang. Posisi duduk mereka memang tepat disebelah mushalla jadi tak hayal riuh mereka dapat mengganggu kenyamanan peristiwa sakral manusia dengan Tuhannya.

Citra untuk mereka para penikmat hijab secara absah menjadi berkurang dengan adanya mereka yang hanya memakainya untuk sebatas trend masa kini tapi tidak dari dalam kalbu. Saya sendiri sangat menyukai mereka para wanita yang bisa menampilkan diri sebagai muslimah dengan gaya yang sesuai umur namun tidak melupakan tartib pemakaiannya. Itu secara tidak langsung akan memperlihatkan bagaimana kerudung itu bisa sangat nyaman dan bagus jika dipakai dengan benar, tapi lain jika yang terpampang adalah seperti gambaran koloni wanita pertama tadi, bisa jadi pepatah "gara-gara nilai setitik, rusak susu sebelanga" benar adanya.

Jadi teringat pada hal lainnya...

Sudah sering terlihat dengan mata ini bagaimana provinsi yang sering disebut serambinya Negara Suci itu menjaga ketat para warganya dalam berbusana sehari-hari. Tapi belum terpikirkan bagaimana jika kamu yang berada di dalam daerah tersebut merasakan apa yang sedang digembar-gemborkan tidak demikian yang terjadi dalam masyarakat. Kerudung tipis membalut kepala dengan gontai menelaah helai rambut, baju melinkar tipis menyaingi kulit ari berada tepat diseputaran pangkal lengan hingga pergelangannya. Sekarang, style atau tipe-tipe baju seperti itu sedang "in" dikalangan mereka seperti brokat halus tanpa pelapis dan sifon lembut terawang nampang. Suka atau tidak ya begitulah adanya. Tertutup atau tidak ya terima saja untuk melihatnya.

Terkadang terbersit dalam pikiran saya mungkin sebagai warga, mengapa harus memaksakan jika warganya sendiri belum siap untuk menerima kodratnya sebagai hamba. Apa gunanya jika mempercayai kerudung sebagai penutup kepala yang hakiki tapi menjuntaikan rambut dari dalamnya menjadi tren yang makin digemari. Kalau saya lebih baik mereka tidak memakainya sama sekali daripada membuat orang lain berdosa, bukan karena melihat ya, tapi lebih kepada mencela terhadap si pelaku. Stigma yang bermain disini, positif atau negatif ya tergantung nafsu dari yang lihat. Pendapat yang mengatakan kalau tidak di rubah sekarang bagaimana nantinya, dan itu kami mengaturnya dalam setiap peraturan, lah percuma aja diatur dalam peraturan, kalau dirumah yang ngatur sendiri masih berlaku hal yang sebaliknya bukan.

Bukannya tidak menyukai apa yang telah ditetapkan, sangat bangga malah, membuat sesuatu yang biasa menjadi khas didaerahnya dan ini berawal dari kejadian yang tak terduga. Tapi bukankah semuanya harus berasal dari hati masing-masing tanpa paksaan pihak asing.

Sepertinya tertawa membuat segalanya terlihat menakjubkan dan menyedihkan disaat yang bersamaan.

Baik dan yang terbaik itu berbeda bukan.

Jumat, 02 November 2012

Siapa Menjadi Siapa

Whether we like Demon and Angel !!!
3:) and (:O


Aku menelaah malam lebih gelap darimu. Menelusuri genangan pahit dari banyak manusia yang merasakan getir perih denting jam yang berlalu di siang harinya. Black. Hindar mengitari, tidak mendekat. Mengambil jarak hingga pendar berganti gelap dan terus mengelilingimu.


Kau muncul dengan bayangan putih penuh benderang sinar dan pantulan yang menyilaukan jasad tubuh penuh luka nestapa. White. Temaram pun tak berani mendekat, seakan dia tahu apa arti sinar dalam kematiannya.


Saatnya nanti, aku kan mendekapmu dengan lebih kerap hingga nafas kita seiring berjalan mengikuti ritme detik jarum tercepat pada penunjuk waktu. Grey. Bagaimana aku menerima cahayamu memasuki relung lubang penuh gulita dan kau menari diatas kelam sembari sedikit mencicip apa yang sebelumnya tak pernah kau tahu akan indahnya temaram dalam kesempurnaan malam.



Bukit bercerita banyak tentang sinar yang didapatnya penuh dari si pemilik jagad tata surya kepadamu, begitu juga aku, yang mendengarkan dia bercerita tentang kelam sempurna yang di terima saat si pemilik sinar hanya bisa berada di balik tumpukan sedimen yang alpa jika ku beberkan satu per satu.


Titik demi titik berkumpul hingga berkas cahaya mulai terasa dipelupuk yang lebih memadai untuk dikenang. White. Bukan sebagai pahit yang akan terasa di pangkal sebuah rasa tapi sebagai manis yang lebih diinginkan pada permulaan sebuah rasa hingga patut untuk di gemarkan.


Sudah seperti titik keseimbangan dalam purwarupa yang menyiratkan beban kelam dan cahaya. semuanya berkata takkan bisa saling bersama tanpa sebuah pertengkaran tapi sepertinya titik itu tetap tidak bergeming, mungkin satuan perekat terhebat tlah beralas kuat di titik itu hingga lisan dan tulisan tak seperti yang mereka harapkan.


Tentang babak kehidupan yang dimulai dari sebuah percakapan akan rasa. Colour. Rasa dari seluruh indera yang bisa menuang apa yang dirasakan rasa. 


Kamu yang mulai mendekati kelamku, dan aku yang mulai mengerti sinarmu.
Gelisahku untuk menujumu.


Karena bingungku akan siapa menjadi siapa?
(Demon or Angel)




3;) ---- (;O

Jumat, 19 Oktober 2012

Bagaimana

" Bagaimana "
( 02 September 2012 )


Bagaimana mau meraba bintang jika tameng kelam membiaskan cahaya pejamkan mata. Tameng hancur kelam tersisa, cahaya masuk mata terbuka dan bintang teraba. Cahayamu jalanku untuk terang melihat tujuan.

Bagaimana mau tersiram bulan, jika air pemancur buram berpalut busa dan tertahan. Buram tersaring, Pemancur kembali indah, busa menghilang dan halangan mencapai penyelesaian. Halangan hilang meradu bersam harapan sebuah keikhlasan.

Bagaimana bisa menanti hujan, jika rintih pertama datang malah bukan dari sang awan. Seorang gadis tersedu mengisak luka yang tak berwujud, hanya dia temannya yang menyaksikannya. Sang Awan. Melihat jauh kebawah dia merasa malu untuk kembali menurunkan hujan dalam tangis.

Bagaimana bisa menghalau pekat, jika harapan mati menanti semburat. Harapan kembali dengan sinar melebihi semburat, pekat lari tunggang-langgang menjauhi keadaan. Pekat menghalau harapan memasuki dunianya, hingga terjadi dan membahagiakan insan yang mendambakannya.

Bagaimana, jika malam terus menyelimuti masa depan dan menjadikan'a sekedar gantungan bukan tujuan. Masa depan menjadi nyata saat malam berganti siang, tujuan terpatri dan terlihat mata hingga asa tak lagi menggantung di langit sana. Mungkinkah terus bermimpi di terik siang.

5 tweet 'Bagaimana'
Disponsori oleh Sate Padang Takana Juo

Sabtu, 13 Oktober 2012

Dua Gelas Penyiar

Ini bukan tentang dua sejoli yang menghabiskan waktu bersama di sebuah cafe nan cantik berhiaskan kenangan masa lampau dan secara estafet terus mengukirnya. Bukan juga cerita cemen tentang dia yang ditinggalkan dan terus menunggu hingga dia kembali atau dia sudah bisa melupakannya. Ini bukan tentang kisah cinta walau tidak sepenuhnya bukan.


Malam bersama, saat sepi belum sepenuhnya membungkam hari dan ku rasa itu sudah tengah malam lewat. Beranjak dari tempat yang seharusnya orang-orang habiskan dengan membekap tubuhnya dengan selimut tebal penghantar hangat. Aku dan dia selalu siaga melihat waktu agar segera berselancar menuju remang-remang malam, ya remang suatu tujuan.

Tak hayal aku dan nya sering berteriak pikuk hanya untuk menghilangkan hawa dingin yang menjalar sedikit demi sedikit dibawah kain pembalut tubuh, hingga saat itu kami memutuskan agar esok memakai stelan dalam kondisi cuaca pegunungan everest, jadilah dua model winter style tersesat di sebuah kota kecil meradu malam demi sebuah tujuan.

Aku begitu mencintai pekerjaan ini, begitupun dia. Dia yang mengajakku bermain kata dan joke seru ditengah malam di bulan Ramadhan. Dia yang mengajarkanku bersapa sopan tapi kocak disana. Dia yang memberikan sedikit ilmunya untuk bisa kukecap sekaligus langsung mempraktekkannya. Dia yang menunjukkan sisi lain sebuah bakat terpendam.

Menjadi seorang PENYIAR RADIO itu mengagumkan.

Kami mulai mengudara di pukul 01.00 WIB dini hari, yang terkadang pergi berbekal sarung dan bantal penopang muka saat kantuk tak tertahankan. Pukul 04.00 WIB kegiatan itu pun kami usaikan karena telah memasuki jadwal Sahur dan sudah sebaiknya untuk kami segera berpulang kerumah.

Keadaan bisa berubah saat buruk waktu itu, dengan cuaca yang tak menentu kiblatnya, terkadang memaksa kami untuk mengadu sistem imun dengan hujan badai dan halilintar diluar sana, namun inilah pekerjaan dan kami mencintainya.

Mie instant, coffemix sachet, cappucino, coffe latte, mangga, kue basah sisa buka, dan banyak jenis lain yang pasti akan dibawa saat akan pergi bekerja mengait kalimat disana. Tahun ini, kami mendapatkan segmen kuis yang lumayan membawa banyak kesempatan untuk bisa tidur dibalik kesenggangan yang ada.

Banyak cara yang dilakukan untuk menghilangkan selera kantuk yang bersemayam di tubuh masing-masing, dan cara yang paling ampuh menurut dari apa yang telah banyak di coba adalah Bergoyang amburadul ria dengan lip-sinc lagu yang sedang diputar di radio. Ya setidaknya kami tahu kalau kamar tersebut kedap suara, sehingga suara cempreng penyanyi karbitan seperti saya tidak terdengar hingga ke gedung sebelah. Kenapa hanya saya?, itu karena dia sangat pandai dalam olah vocal, hobinya untuk selalu berdayung merdu penuh rasa pada suara disetiap hajatan yang ada.

Pernah saat itu hujan deras dan petir bergemuruh dahsyat, tak satupun dari kami yang membawa helm sebagai antisipasi keadaan darurat, itu dikarenakan cuaca masih dalam keadaan aman dan terkendali ketika kami berangkat namun terbalik seketika saat kami akan beranjak pulang. Malam itu kami pergi bertiga, bersama dia yang lainnya, untuk lebih memeriahkan suasana. Dan aku yang bertugas membawa motor dengan membonceng mereka bertiga yang sudah termakan kantuk. Dengan berbekal mantel seadanya aku berkendara dengan cukup pelan, hingga di persimpangan terakhir, hampir saja kendaraan yang kami kendarai nyungsep kedalam sebuah selokan besar dibarengi dengan tubrukan besar benturan mobil yang mungkin akan terjadi jika keahlian menungkik tajam tidak aku miliki dalam berkendara, untunglah hal itu tidak terjadi. Mereka tidak berkata apa-apa, hanya tertawa melihat ulah ku yang tidak bisa melihat jalan dalam kondisi hujan. Ya, mereka hanya tertawa riang. Aku lega.

Mendengar keluhan bahkan curhat jenaka hingga sedih nestapa saat melakukan tugas siar merupakan suatu hal menarik dari pekerjaan itu. Curhat jenaka seakan mengembalikan gairah humor yang kental dalam diri hingg niat sangat untuk membalasnya. Tapi, jika curhatan itu berupa kabar -garing- tentang hidupnya ya paling kami hanya sekali berkata "mmmm..." "trusss..." "iyaaa....", dari balik microphone kami mungkin sedang ngupil ria, guling-gulingan, isi TTS, ngemil, cari kutu no matter yang nelpon sedang nangis bombay nunggu sugesti/nasehat untuk hidupnya. (: MENARIK

Pernah di malam yang suntuk menguap sangat, ada tiga penelpon yang sedang berbalas ejek menerpa frekuensi kami. DAMN, kocak kesel norak (biasalah frekuensi daerah (((: hahaha) dan Know What !!! itu problem tentang cinta, begini :
        1. Penelepon 1 : Pria
        2. Penelepon 2 : Wanita 
        3. Penelepon 3 : Pria kawan Penelepon 1
Penelepon 1 mengatakan pada kami dia ingin berkirim salam pada sahabatnya yang sedang berbahagia atas perkawinannya yang baru saja berlangsung dan bla-bla-bla, klik. Kemudian setelahnya penelepon 2 mengatakan untuk penelepon 1 agar tidak sombong dan baik-baik dengan wanita agar bisa nyusul nikah juga, dan dia bilang kalau dia Mantannya si penelepon 1, klik. Penelepon 1 menelepon kembali dan berkata dia tidak pernah kenal dengan penelepon 2 yang mengaku sebagai mantannya dan itu tidak benar, klik. Secara estafet penelepon 2 kembali menelepon dan mendamprat penelepon 1 habis-habisan hingga KAMI sebagai yang punya jam siar beberapa kali mematikan tombol siar agar tak terdengar dengan pendengar, karena kebun binatang dan organ tubuh berhasil keluar dari sound yang ada, hingga kami berinisiatif memutuskan sambungan telepon, klik. Kemudian tak lama setelahnya penelepon 3 yang mengaku sebagai kawan dari penelepon 1 mengatakan bahwa semua yang dikatakan penelepon 2 tidaklah benar karena penelepon 1 merupakan kawan dekatnya yang sering curhat kepadanya, sehingga dia pun mengutuk si penelpon 2 (sudah mulai lebay), klik. Penelpon 2 kembali menghubungi kami dan berkata-kata, namun kali ini kami menimpalinya dengan bernasehat sebijak mungkin, TAPI, alhasil damprat pun di alamatkan kepada 2 penyiar anti mainstream ini sehingga sekali lagi kami memutuskan untuk mengenyahkan jalin telepon tersebut dengan sangat santun. (dibelakang layar : kami berdua mendamprat-kutuk-caci-rumpi si penelpon 2 dengan dahsyat hingga tarikan nafas iklan terakhir). Malam itu berhasil membangkitkan emosi dan gelak tawa kami berdua. ((:

Banyak yang masih bisa dikenangkan dan banyak pula yang masih harus dikerjakan, semoga tahun depan dan depannya lagi, pekerjaan ini terus menanti untuk saya umbar kembali dan masih tetap bersamanya.

Thank you for keeping stay tuned on One O One Point Three DALKA FM wit him EI and Me (Bramadita). Selalu hargai hidup karena ini cuma terjadi sekali, hari terus berganti dan kenangan terus terpatri. Keep Rockin Guys. OFF

 My Brother EI/Erwin ((:

Jumat, 28 September 2012

Memberi Harapan

Waktu sudah muak melihat kita terus bermain perasaan tanpa balasan. Dia tertawa renyah sesekali garing, melihat kita berdua menghabiskan waktu bersama dalam berbagai kesempatan namun tanpa sebuah kejelasan antara aku dan kamu.

Berjalan saja, aku yang selalu menanti senyummu pada setiap pertemuan kita, dan kau yang selalu berlari kecil mengikuti irama detak jantungmu yang kian menghentak saat aku telah berada tepat didepanmu. Pertemuan singkat menjadi kamuflase indah dalam sebuah kenangan yang terus terukir dan diingat, dalam skala sedih dan sesal karena ini menjadi sebuah permainan yang terus berlanjut.

Melihatmu, dan kau pun begitu. Mata ini tidak bisa berbohong seperti yang sering mereka katakan tentang hati yang berbicara melalui sinar mata, begitulah mungkin dengan mataku, dan sepertinya tidak salah jika aku juga melihatnya dari matamu. Binar-binar halus penuh bintang yang seharusnya bisa mengisi malam namun datang di siang hari dan mengajakku bermain disana. Matamu surga rasa bagiku.

Kau ingat bagaimana hujan membantu kita untuk saling mendekat, hujan yang turun sendu di pertemuan malam itu, pertemuan yang seharusnya bukan kita rencanakan tapi mereka dan alam menunjukkan kemampuannya. Berada dekat dipunggungku, hangat menjalar di tengah dingin malam pada tubuh penuh getaran ini, yang mungkin tersamarkan oleh gigil dingin cuaca malam itu. Sepertinya aku mendengar degup itu lagi, degup yang tidak normal dengan ritme cepat, dan itu berasal tepat di belakang punggungku.

Never thought it’ll be this way
and I know I’d never be the same
yeah I know life goes on
but still I’m tryna figure it out
being without you baby
you know it’s killing me to say
I’ll never see your face again or living without you
Girl how am I suppose to lose you baby

Menunjukkan rasa degan gamblang didepan parasmu membuat nyaliku ciut digondol binatang atau serangga. Semuanya hilang begitu saja, hilang dan meninggalkan semu panik penuh kecelakaan fisik berikutnya. Keberanianku memakan hubungan yang tak terucap ini.

Ketakutan sepertinya masih menyelimuti hati ini, hati yang dulu pernah tersayat dengan ketakutanku juga, hati yang mulai terbiasa dengan kesendirian, hati yang belum menemukan kepercayaan diri untuk terbang dan merengkuh bintang dalam balutan awan. Bisakah.

Alasan ku menjadi harapan sepertinya. Tanpa ku sadari kau telah tersakiti untuk ini semua, untuk semua pemberitahuan yang tidak berupa lisan dan tulisan. Begitupun aku, yang menahan aib hati hingga mungkin ....

Semua akan berakhir bahagia atau hanya meninggalkan nestapa menggila.

Rainy days rainy days 
now that you’ve gone far away
my raindrops pouring down my eyes
you know I’ll never be okay
goes fade away fade away
don’t you know I’m missing you
here it slowly falls again
every day and night
as I open my eyes



credit title :
Bramadita A. P.
Song by One Way - Rainy Days (english version)



Bagi mereka yang terus memberi untuk menyakiti, beranilah untuk tidak takut ...