Tawa Menjadi Keseharian, Duka Menjadi Kesederhanaan Dan Gila menjadi Sesuatu Yang Menakjubkan.
Senin, 12 September 2016
Tanpa Ibu dan Rumah
Minggu, 31 Januari 2016
Hai, aku Andra.
Selasa, 24 September 2013
Di Kafetaria
Entah sudah berapa kali mereka berbincang, bukan untuk menghujat waktu yang mereka gunakan, hanya saja dahaga ini sudah terlalu kering menanti asupan air. Mungkin gerutu saya tak akan terdengar, tapi bukankah sudah cukup artitatapan mata ini pada mereka yang terus berbincang tanpa memperdulikan minuman saya yang terus berkeringat dari cawannya.
Memang benar saya tak peduli akan masalah hidup mereka yang selagi mungkin sedang mereka bicarakan, dan ... sepertinya mereka juga tidak memperdulikan masalah dari kehidupan saya sekarang, dahaga.
Segelas cairan berwarna bening kecokelatan dengan potongan lemon diatasnya telah mendarat langsung menuju bibir saya, sudah cukup sabar saya untuk tidak membiarkannya memakan waktu lagi dengan menyentuh atap meja.
Kembali kekodratnya mungkin seperti itulah yang bisa saya gambarkan tentang mereka, perbincangan panjang terjadi lagi, kali ini menampilkan sedikit tawa dan perkelahian kecil. Ada perbedaan umur yang jelas tampak pada mereka, seorang pemuda yang sedang lincah-lincahnya bergerak, seorang lelaki dengan kontur wajah yang lebih tegas dibanding yang satunya, dan seorang lelaki lagi masih terlalu cepat untuk dibilang dewasa.
Berbicara tentang masalah hidup, tidak ada yang lebih menyenangkan saat mencurahkannya pada teman, karena terkadang sesuatu yang menyedihkan saja bisa sangat menggelikan dan tak pelak mengundang tawa apalagi dengan hal yang memalukan, saya kira itulah nikmatnya berbagi bersama, pundakmu tak begitu berat menanggung problema disaat temanmu ada membantunya, walau itu hanya sebatas teman jalan semata. Tak bisa dipungkiri memilih teman itu penting dan sudah tabiat untuk membaginya kedalam beberapa ring tertentu, kamar, ruang tamu, or just saya hai.
Saya pikir mereka sudah cukup akrab, terlihat dari tatapan dan polah mereka dalam berinteraksi, cenderung tak ada perbedaan, dan melihatnya sekarang jadi sangat menyenangkan.
Setiap orang memiliki masalah pribadi, tapi tak semua bisa dibagi, apalagi antar lelaki, cemooh lebih kuat daripada nasehat, menerima seperti gengsi yang didewakan kemudian berbicara dalam lamunan.
Mereka terus berbicara, saya menyesap seluruh isi gelas sembari menerka arah pembicaran mereka, harapan saya tergagu pada objeknya, semoga bukan saya. Mata ini sudah terlalu lama menatap mereka, dan kini mulai berprasangka. Ah, sudahlah, hidup sepertinya terus begini.
Sabtu, 21 September 2013
Di Rumah Makan
Malam kala itu tidak begitu gelap, purnama datang disela-sela awan dan mengalahkan cercah gemintang. Segelas teh tarik dingin berada tepat dihadapan saya, tinggal menunggu senampan nasi dan pelengkapnya, beres sudah makam malam saya. Belum berapa lama saya duduk di cafe ini tapi ada saja yang menarik untuk dipikirkan, mulai dari pasangan yang selalu menghina diantara kecut tawa, meja dengan kapasitas layar yang melebihi colokannya, juga seorang pekerja yang cukup letih dengan aktivitasnya namun menyempatkan diri untuk sekedar menyicip segelas kopi.
Ada yang berbeda diujung sana, raut wajah yang acap kali sering saya dapati pada cermin ruang kerja, mimik muka yang menggelambir dalam pantulannya, hidupnya sedang diombang-ambing lautan kertas alphabet bisik saya dalam hati. Acuh, karena saya tak mau alih-alih mengomentarinya malah sifat saya sendiri yang menganga ingin dicela.
Sekali dua kali aku menengok ke arah lelaki itu, sudah agak mendingan pikirku, rautnya tak sekelam tadi, sinar lampu saja sudah berani menfarat pada pelipisnya, itu pertanda baik.
Sembari gigi ini mengunyah asupan-asupan karbohidrat dalam bentuk yang tidak asing, otak saya tak ingin tinggal diam, terus menerka-nerka apa yang baru saja saya lihat. Bagaimana kehidupannya? Apakah ia sudah berkeluarga? Mata kuliah mempersulitnya menuju toga? Atau kehidupan asmara tlah merenggut bahagia harinya?, berulang-ulang kalimat itu merapal pada isi tempurung kepala ini, terganggu?, ah sudah biasa. Entah mengapa raut kerut penuh sembelit itu mengingatkan saya akan kesusahan, kemurungan, kesengsaraan, dan segala sesuatu dari negatifnya sebuah bahasa, padahal bisa saja dia sedang berpikir bagaimana caranya bisa menang pada permainan poker, atau bisa saja dia sedang menikmati erotisme sebuah film pergumulan, atau malah sedang mengingat padanan kata dalam lembar teka-teki silang.
Saya terlalu banyak memikirkan yang tidak penting, mungkin otak ini akan memberontak karenanya, tapi bukankah itu yang terkadang sering terjadi dalam hidup?, karena sifat terlalu sibuk ingin mengenal orang lain sampai bablas tak mengenal diri sendiri.
Menyeruput sisa minuman yang hanya menyisakan dua pecahan es, hidup terlalu singkat untuk tidak mengenal diri sendiri bisik hati.
Selasa, 23 Juli 2013
Trampled Rose - Kesalahan Dari Sebuah Kesengajaan
Just like a trampled rose, a life of pain and sorrow
A constant struggle every day, your dreams seem so far away.
All your friends turn their backs on you, people put you down
Point their fingers and stare,
Done no wrong, but you've been accused
Hidup dalam kesedihan jauh dari kebahagiaan
Hidup dari rasa sakit penuh penderitaan
Seperti tidak ada kata mereka dalam setiap subjek sebuah kalimat bagi dirimu, karena artinya sama saja dengan penderitaan dan antonim sebuah kebencian. Tidak ada yang melarang untuk hidup berkalang orang berpunduk jurang, toh sama saja jika sebuah hinaan mendarat tak bertuan kala.
Now you're on your own
Hanya bisa berpangku pada rasionaliotas diri sendiri tidak untuk berpedoman benci apalagi terjunan cacimaki.
Hidup kini seperti kaki berpinjak pada diri sendiri.
The next day feels just the same, you're caught in a waiting game
So you start to build a wall, so you can't feel anything at all
You may think, that the sun don't shine, that you're the only one
But you have to believe, (but please listen to me)
For it's said, they that sow tears, will reap in joy
Berpikir untuk pergi dan menyendiri
Jauh dari kamus sosial kependudukan bertenggang rasa
Membangun tinggi sebuah batas dan mempertebal bentuk pertahanan ekspresi
Kemudian kamu mengada-ada, bergumam paksa, dan menghayal lirih semua
Hingga mengerti kebahagiaan ada karena antonim menjaganya untuk terus ada, hanya harus percaya kalau Tuhan itu ada, dan nyata itu benar adanya.
Pull down those walls and let your light shine,
Rise from your pain, and hold your head high
And look into the light
Even though the road seems long, everything you do looks so wrong,
Pick yourself off the ground, dust yourself off, come out of the dark.
Don't give up, don't forget your dreams, you can make it through, you just got to believe,
You are strong, You are beautiful, You can break those chains.
Pull down those walls and let your light shine,
Rise from your pain, and hold your head high
Give thanks to god for what you've got,
Biarkan semua berjalan dengan semestinya, bukan untuk berubah, hanya berpikir sedikit berbeda dari sebelumnya, melihat untuk tidak dalam sudut kesalahan melainkan kebahagiaan di ujung sebuah cerita. Menyerah bukan pilihan tapi keputusasaan, berlarilah dan ubah keadaan karena impian tercapai tergantung kekuatan. Tatap hari dengan sengaja bukan karena, ini kesombongan untuk terus mensyukuri.
Forget what you want and see what you have
Lupakan yang kamu inginkan dan lihat lebih dekat untuk tiap yang kau miliki, komplementer ada saat kita tidak merasakannya.
Lyrics by Gugun Blues Shelter
Trampled Rose
Kamis, 11 April 2013
Arah
"Belok kanan", jangan kaget kalau saya bisa saja langsung belok kiri.
Ya itu saya, entah sejak kapan saya mengidap gejala ini, yang jelas saya sangat susah membedakan antara kiri dan kanan, bukan tidak bisa, tapi sulit jika tidak dibarengi dengan gerak tunjuk.
Dalam keadaan normal seperti saat saya sedang menulis ini, saya masih bisa mengatakan kalau yang kanan itu kanan dan kiri itu kiri, tapi jika kamu menanyakannya saat saya sedang membawa motor atau pertanyaan muncul secara tiba-tiba maafkan sajalah untuk kesalah yang akan bakal tetjadi.
Pernah saat itu saya sedang menunggu mobil jemputan pulan ke kampung halaman, dan kemudian si supir pun menelpon untuk menanyakan alamat lengkap kostan saya.
Saya bersikukuh mengatakan bahwa lorong menuju rumah saya ada di sebelah kiri dari lajur kota, sedangkan si supir sudah sibuk mencari alamat hingga jauh melewati lorong kostan saya dengan gondok nya, mungkin. Namun seketika saya diberitahu adik sendiri kalau lorong kostan berada disebelah kanan, selanjutnya percakapan hanya berakhir dengan kata maaf, jelas dari mulut saya.
Kawan terdekat sudah pada tahu tentang "kekurangan" ini, dan mereka memakluminya, hanya saya saja yang kurang maklum kalau tiba-tiba mereka usil untuk hal ini.
Entah apa nama "penyakit" ini, tapi bukan penyakit juga sih, hanya saja jadi kekurangan juga jika sedang membawa motor dan memboncengi orang yang tidak mengerti akan kekurangan ini, mending kalau dia nya nunjuk arah sekalian dengan gerakan tangan nyata. Kalau tidak, ya tahan-tahan malu saja jika saya tiba-tiba berhenti dan berbalik arah.
Kamis, 07 Februari 2013
Bang Sulam Yang Disana
Entah sejak kapan dia tak muncul lagi di TV tayangan prime time disetiap rumah di Indonesia, saya pun luput dengan kapan tepatnya, saya kira sudah sejak tiga bulan yang lalu dia tak muncul lagi di TV menemani istrinya yang sedang kerepotan mengurus si buah hati.
Saya ingat-ingat, mungkin saat episode terakhirnya muncul di sinetron itu saya sedang berada di luar rumah atau sedang lena dengan tidur malam yang kecepatan karena kelelahan di siang harinya. Jika menanyakan mengapa saya mau nonton sinetron itu?, jawaban ada dua, pertama, karena sinetron tersebut berada pada jam prime time dimana saya baru pulang kantor dan sedikit merebahkan diri sambil berkaca TV, kedua, apa mau dikata jika saluran TV yang tersedia di kostan saya hanyalah RCTI dan TransTV yang sering memutar kisah-kisah nyeleneh tentang hantu dalam balutan jenaka. Tetapi ada hal lain yang saya nikmati dari sinetron ini, yaitu jalan ceritanya yang tidak membosankan dan cenderung seperti nyata dalam kehidupan kita, mungkin itu yang membuat saya betah menontonnya berlama-lama karena terkadang pihak RCTI meng-combine 3 episode dalam sekali tayang.
Dear, H. Sulam kok sudah tidak terlihat lagi ya di sinetron Tukang Bubur Naik Haji!!
Yang terhormat H. Sulam yang katanya sudah melebarkan saya bisnis buburnya di Mekkah sana, saya tetap menanti kok kepulangan bang haji ke Indonesia, apalagi istri bang haji Mpok Rodiyah dan si bayi Alif begitu juga Joni, keluarga yang lain juga kok bang seperti Mang Ojo, Cing Nelam dan Ncum, Cing Mahmud dan Atiqa, Sobari, Robby dan Rumana, Ustad Jakaria dan Ummi Mariam banyak yang lain deh bang, ya tentunya tidak termasuk si Haji 2 kali Muhiddin. H.Muhiddin masih sama dengan yang dulu bang, padahal kan Robby sudah nikah sama Rumana tapi tetap begitu juga sikapnya gak ada yang berubah, mungkin tunggu azab kali ya bang.
Bang Sulam, yang sedang disana jangan khawatir dengan yang di sini, karena yang disini baik-baik aja bang, buktinya sinetron TBNH (red: Tukang Bubur Naik Haji) masih dalam rating teratas di antara sinetron lain pada jam prime time. Semenjak Bang Sulam pergi tetap banyak aja masalah yang datang ke keluarga abang, tapi tetap terselesaikan kok bang, Insya Allah Cing Nelan sama Mang Ojo masih sedia untuk siaga.
Emak juga sudah pergi bang, saya juga gak tahu kemana, episode terakhir yang saya lihat Emak sakit bang jadi diam aja di kamar dan tidak muncul di layar TV, terus kalau gak salah saya ya bang Emak katanya pulang ke kampung mencari ketenangan mungkin.
Mpok Rodiyah sering sekali kangen dengan abang, sampai bercucuran air matanya saat mengingat abang, Mpok Rodiyah maunya abang cepat pulang, biar Alif besar bisa melihat bapaknya.
Usaha disana bagaimana bang? lancar terus kan bang!. Jika sudah bisa ditinggal usahanya, segera balik ya bang, memang TBNH masih bisa jalan tanpa adanya abang tapi kurang gregetnya bang, something missing kalau kata orang-orang londo bang. Abang juga disana cari duit untuk naikin haji siapa lagi bang? kan sekeluarga sudah, abang juga sudah 3 kali, kalahin H. Muhiddin lagi, apa mau naikin haji warga sekampung bang?, kan kalau Robby dan Rumana bisa nyari uang sendiri dengan kerjaan Robby bang.
Warung bubur baik-baik aja bang, Mang Ojo dan Lela tiap hari kerja dengan semangat. Warung obat Cing Nelan juga sudah mulai buka malam hari dan tambah sukses bang.
Bang Mpok titip salam disetiap malam TBNH tayang, mungkin kalau Alif sudah bisa ngomong dia juga bakal rindu abang dan suruh abang cepat pulang.
Saya dan pemirsa dirumah juga sepertinya merindukan sosok gembul Bang Sulam.
Sabtu, 02 Februari 2013
Kamu Kuat
Semoga kamu kuat.
Ku yakin pasti kuat
Perih ku melihatmu merintih tanpa suara, bergidik pun tidak. Ikhlas, sepertinya itu yang ingin kau sampaikan padaku yang mulai miris akan bentukmu yang tidak lagi aduhai seperti dulu.
Dulu, kau bagai manekin pelipur lara di tengah sumpek jalanan kota, tapi kini hanya sebagai tempat sandaran belaka. Lubang yang telah menganga tak dapat tertutup kembali seperti mulanya, kurasa itu yang dikatakan "kenangan buruk akan terus ada hingga kapanpun, yang dibutuhkan hanya rasa ikhlas untuk menerimanya ada". Jika saja kata jerit itu ada dalam kamus permintaan tolong mu, kurasa mereka akan berpikir seratus kali lebih untuk melakukannya kepadamu.
Kamu memang tidak seperti aku, jauh.
Laraku menjadi-jadi saat kau mulai tak segar lagi, hijaumu kini melayu dan aku temenung gagu. Kemana rimbun yang sering kulewati itu? Rimbun yang menghantarku kembali berproses dan pulang menuju rumah. Rimbun yang menahan sedikit lelahku saat terik melanda. Kini hijau menguning kecoklatan, runtuh secara beraturan dan hilang dalam siul buai angin.
Perbedaanmu memang tidak mengena dihati mereka, kecil mencuil, kasat ditatap. Apalah artimu bagi mereka yang melihatmu bukan sebagai makhluk Tuhannya juga. Dunia seperti tidak membutuhkan fungsimu secara biologi melainkan ekonomi, lagi-lagi congkak menjadi yang terbaik bagi mereka.
Aku merindukan harummu, walau tanpa putik dan sari, kau tetap semerbak dibalik terik dan hujan.
Aku merindukan bayangmu, bayang-bayang yang selalu ku hitung keberadaannya ditengah padatnya asap kota.
Aku merindukan tampakmu yang sempurna, tak kurang satu ranting pun.
Tanpa paku yang tertancap meliuk dibatangmu dan tanpa temali yang menjuntai tak indah pada rantingmu.
Pohon Besar Jambo Tape.
Sabtu, 19 Januari 2013
Merugi rasa
Untukmu yang penuh bual canda.
Aku kesepian, hangat sepertinya kurang walau bara tetap berpendar tajam. Dingin menusuk ari dan jauh terus kedalam, aku menggigil.
Tawa hasil candamu kini terasa aneh diotakku, berpikir banyak untuk berekspresi sepertinya bukan menjadi awal yang bagus untuk adegan itu. Kau seperti terkubur pada kata-kata dalam buku jitu merayu wanita.
Ini sudah memuakkan bagiku.
Kurasa, getir kini lebih pahit dari seharusnya.
Cahaya itu tetap masuk dan bersinar dalam rongga-rongga kaca, memantul hingga tempat terjauh. Pantulan itu menyebar, tak lagi satu, kaca itu telah retak, kau hanya tak mengetahuinya atau hanya sekedar tak ingin.
Mimpimu buruk. Aku terjerembab, kau menghampiri.
Aku telah tiada.
Selasa, 01 Januari 2013
Cerita Derita
Tangis mengawali malam
Kamu bercerita tentang pigura yang menahanmu, ada batas yang tak bisa kau acuhkan, ada patri yang tidak bisa kau buka tautnya, dan ada ucapan yng tak bisa kau pelihara perbendaharaannya.
Kamu bercerita tentang langkah yang menahan dalam jejak-jejak kecil, ada tumit yang kaku saat bergontai, ada betis yang tak berbentuk dan hanya sakit yang terasa, dan ada jemari yang terlalu tegang dalam menapak hingga lupa meninggalkan bentuknya.
Seka lembut awan malam
Kamu bercerita tentang dia yang mulai menenangkanmu, dia yang telah mengembalikan senyum yang lama tidak terlihat, dia yang bercerita banyak tentang lebih dari yang kamu punya, dan dia juga yang telah melukis bentuk dengan lebih sempurna pada hatimu dengan kanvas yang lebih mumpuni.
Kamu bercerita tentang dia yang telah menulis bait-bait sajak indah tentang rasa yang sedang berkembang, tentang rasa yang mulai tumbuh kembali pada tempat berbeda, tentang kembang yang mulai menghunuskan baunya pada indra-indra penciuman, dan tentang dia yang memikirkan lebih tentang dirimu lebih daripada.
Tidur pulas rembulan malam
Kamu bercerita tentang perhatian yang lebih, kerinduan yang terbalas, rasa sakit yang tidak pernah ada, malam yang selalu cerah, pagi yang terus bersinar, waktu yang tertata rapi, dan senyum yang selalu merekah dari sudut ke sudutnya.
Pagi siluet senyum.
Selasa, 25 Desember 2012
Buyar (rasa)
Mereka kira ini berjalan baik. Baik seperti apa yang mereka katakan dulu tentang bagaimana mempertahankan rasa hingga benar-benar tahu kalau itu rasa. Lihat, bagaimana kata itu cuma tersusun dari empat huruf namun bisa menghancurkan susunan kata dan sebuah dunia.
Rasa itu sepertinya cukup untuk dicerna dan dihayati agar dimengerti bukan untuk ditelaah kemudian mati dalam mencari arti.
Sok tahu, selalu begitu, padahal bukan mereka yang merasakan. Mereka berkata seakan itu terjadi pada mereka, memberikan nasehat seperti mereka juga pernah mengalami hal yang demikian persis dengan ini. Jangan terlalu pongah untuk saranmu kawan, kalian bukan buku dengan titel question and answer di-cover-nya.
Rasa itu bukan untuk didiamkan dan ditunggu hingga meledak atau mereda hilang, namun untuk diungkapkan dan mengetahui kebenaran.
Meragu itu manusiawi bukan untuk ditertawakan melainkan untuk diteguhkan menuju kepastian. Dan mereka tidak berkata demikian untuk sebuah rasa yang mulai meragu akan jati diri rasa itu sendiri, meruntuh karena cemooh dan membatu karena bual palsu dari banyak masukan.
Rasa ini buyar dalam pembenaran mereka.
Minggu, 09 Desember 2012
Musim Hati
Mendikte dari banyak kata sifat akan literatur kebahagiaan membuatnya terjerat dalam bunga sebuah hati yang kini menemukan pasangannya. Musim semi ini seperti tak ingin terlewatkan, bunga yang tak dikenal sebelumnya seperti teka teki terindah yang malah sayang untuk ditebak. Hati itu telah melekat pada hati lainnya diantara kelopak- kelopak bunga yang merona dengan banyak warna.
Jerat hati itu bernama belahan jiwa.
Menulis aksara demi aksara dan memainkannya dalam kalimat-kalimat romantis dari kiri ke kanan hingga berakhir pada titik dan kemudian memulainya lagi. Tiap paragraf seperti irama musim gugur, saat membacanya, rasa hati seperti sedang menyaksikan dedaunan kuning jatuh mengantri menghampiri jalan setapak.
Dua hati mulai menikmati keberadaan satu sama lainnya.
Membeku, entah kemana semua kata manis yang keluar saat menikmati sebuah es krim lembut itu. Semuanya tinggal harapan dan sedikit penantian yang tak terelakkan. Musim dingin membagi rasa khawatirnya pada tiap hati yang terjaga menunggu belahan lain yang tak kunjung membagi kisah dari tempat yang berbeda. Kini rekahan kutub sudah mulai membias di hatinya.
Ada yang mulai berpikir tentang keberadaan hati bagi dirinya.
Mematri kata tak lagi hitam legam tinta yang menari di atas kertas polos penuh dengan keinginan baik, melainkan pekat merah kental yang menyakitkan keluar dari ujung pena yang menggurat bait-bait nestapa dan mendarat pada kertas hitam penuh coretan yang masih baru. Musim ini lebih panas dari yang seharusnya,
Hati itu sudah gerah dan ingin melepaskan bebannya.
Musim berganti lajur dan memulangkan hati pada bentuknya.
Bentuk merapal doa agar bisa kembali seperti mulanya.
Mula bertaruh asa agar tidak menjalin kisah layak sebelumnya.
Sebelum hati berlanjut duka dan tak percaya akan cinta.
Jumat, 30 November 2012
Matur Nuwun
Ambil saja
Ku tahu Kau akan menggantinya
Sirnakan
Niscaya Kau tahu yang sepadan
Relakan
Hati ini sudah cukup riskan
Terima
IndahMu pasti adanya
Sukaku bukan untuk mendukaimu
Gamblangku tidak cukup mengajarimu
Tawaku bisik lara bagimu
Hayatku bermimpi pongah denganmu
Kini berdiri saja
Mendengar saja
Bermimpi saja
Kali-kali saja
Bahagia itu ada
Pada waktunya
Pekik mencekik lirik
Sirik menderik larik
Terima untuk apa yang dikasih
Kasih untuk apa yang diterima
Nuhun
Nuwun
Senin, 26 November 2012
Meradu harapan
Dwi warna berpadu satu
Lelah hati menunggu kamu
Harapan ini semua palsu
Air mata berbulir rindu
Tangkup hujan membias cahaya surga
Lini masa mengeja mega suara
Gaung indah bergema raksasa
Peri cantik bermain ria gembira
Selubung kata mengail raga
Mencari aksara di tengah duka
Mencuri paksa sebuah palka
Lubang aib tlah menganga
Rasa mati tak bersisa
Jiwa kandas menampik siksa
Harapan kini membabu
Bukan sejarah tapi menunggu
Rusak saat mengalir
Dengar saat mencibir
Singgung saat melipir
Buta saat menganulir
Menunggu harapan pulang
Relung mengisi sayang
Ada ruang
Sabtu, 24 November 2012
Menunggu untuk disakiti
Lebam terakhir berada tepat di punggung kanannya, itu yang paling berwarna dari yang lainnya. Biru dengan sedikit nila dan bercak merah disekelilingnya, bekas hantaman sebuah benda tumpul yang lumayan keras mengenai punggungnya. Kursi kesayangannya telah patah tak berbentuk, hanya satu batangnya yang masih tertinggal utuh, batang kayu penahan punggung hangatnya saat dia menghabiskan waktu menunggu dia yang datang.
Batang itu juga yang menghantam punggungnya penuh perih suara, dan setidaknya kenangannya akan batang kayu itu bertambah satu lagi di malam itu. Walaupun sebuah kenangan pahit tapi akan membekas selamanya baginya, tidak seperti kenangan manis yang dia rasakan dan terus menghilang.
Aku menyayangimu dengan cukup bertahan.
Kecupan singkat mendarat di kiri sudut bibirnya, tidak tepat memang tapi itu sudah cukup untuknya. Kali ini pagi begitu semerbak dengan ranum putik mawar yang sudah bertengger di samping wajahnya. Lelaki itu telah pergi menuju realita kisahnya dan dia masih terbaring kaku dengan selimut kusutnya serta tumpuk lembaran merah di atas buffet yang lelaki itu tinggalkan.
Sekian lama dia berbaring hanya untuk menguatkan raga dari siksa nikmat semalam, kemudian memilih untuk merenggangkan otot-ototnya dengan membersihkan semua sisa kursi yang hancur berserakan. Batang kayu utuh akan kenangan pun disimpannya dalam celah lemari pakaiannya. Membersihkan diri di bawah pancuran air deras menjadi rutinitas berikutnya, sekaligus berkaca dan menikmati warna-warni kelu sisa kenangan semalam.
Matanya tertuju pada lembar kertas berbeda di atas tumpukan merah pada buffet-nya.
"Beli salep penghilang luka memar. Aku akan ke luar negeri untuk beberapa hari, terima kasih untuk semalam."
Dan surat itu pun berakhir, berakhir pula di tong sampah di kamar itu.
Taxi sudah menunggunya di bawah lobi apartemen, dia pun telah sampai di ambang pintu lobi dengan style necis penuh brand terkenal. Salah satu pegawai apartemen yang sepertinya sudah sangat akrab pun menyapanya.
"Selamat pagi Tuan semoga hari anda menyenangkan."
"Pagi Dopi, kamu juga. Oh ya, tolong kamar saya kamu bersihkan dan ambilkan kursi baru untuk buffet saya." Sembari memberikan beberapa lembaran merah yang diambilnya dari dompet genggamnya, seraya beranjak pergi menuju taxi yang telah menunggunya.
"Terima kasih Tn. Erdan, akan saya selesaikan semua sebelum anda pulang." Dia sudah terbiasa dengan hal itu dan menjadi pelayan favorit Erdan.
Jumat, 23 November 2012
Pedestrian Pagi
Pagi membuka cakrawala dengan dingin menyengat raga, gemetar dahan rindang bergemuruh lirih saat angin menyusup picik diantara batang-batangnya. Semburat warna laut naik keatas langit dengan indah menuju warna yang lebih muda.
Dengan berbalut kain pembebat letih diatas kepalanya, seorang ibu beranjak pergi dari kediamannya menopang delapan botol penuh ramuan unik hasil kerja semalam. "Bakul rejeki" katanya. Selempang batik yang lebih berharga dari kepunyaan mahkota ratu sedang melilit tegas diantara punggung dan dadanya, seperti dia mempertahankan rejeki agar tidak lari kemana.
Pemuda berkulit gelap meninggalkan pub penuh bingar pagi ini padahal musik telah padam sejak tiga jam lalu, dia hanya tak ingin kembali pada realita hidupnya terlalu cepat dan memilih untuk tetap dalam khayalan cerianya walau untuk tiga jam saja.
Ketukan beraturan sepasang kaki remaja menjejak tanah, mulai menggerayangi pagi disebuah jalan perkampungan. Sedikit tawa, obrolan, dan cemas berpadu dalam wajah-wajah segar diatas seragam putih abu-abu tersebut, membicarakan segalanya mulai dari kisah sinetron yang mereka tonton semalam hingga tugas sekolah yang baru mereka ingat di pagi ini. Tidak lagi beraturan, mereka sudah berlari limpung menuju sekolah mereka sesaat setelah melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 07.45 WIB.
Tangis menghempas hening di sebuah rumah yang tadinya masih terlihat sunyi, seorang bayi sedang meronta memekik telinga para tetangga karena kenyamanannya akan pulas tidur terganggu kehendak pencernaan. Popok yang terpakai sudah terlalu basah baginya dan bukan tugasnya untuk menggantinya sendiri dengan yang baru.
Tetes demi tetes itu telah kering di pagi harinya, hanya jejak putih yang tertinggal. Senyum mengawali hari karena ia yakin duka telah terhempas pergi seperti kelam malam berganti terang benderang walau bekas itu masih ada di ujung matanya tepat di atas senyuman pagi.
Cicit meradu sendu mengingat malam yang mulai terbang, pagi menanti siang yang memuja malam.
Rabu, 14 November 2012
Citra Kerudung Koloni Muda
Temaram maghrib menyapa bumi milik-Nya, adzan berkumandang dengan merdu di mesjid terdekat dari tempat ini. Warung kopi modern ternama di Kota Banda Aceh masih menunjukkan geliatnya hanya saja pintu diare bawah ditutupsekilas agar menaati peraturan yang telah ditetapkan di provinsi ini. Satu persatu dari mereka yang masih mengimani agamanya menghadap Yang Maha Esa pada mushalla yang telah tersedia di tempat itu.
Satu pandangan yang menggelitik saya selaku penikmat tempat pada maghrib itu adalah koloni wanita berkerudung apik (red: hijabers). Mereka tidak langsung mengambil wudhu dan melaksanakan tugas mereka selaku hamba, malahan asyik berfoto-foto ria disalah satu sudut ruangan. Respect saya sangat baik saat melihat mereka datang dengan dandanan trendi khas muslimah muda dengan tingkat kepercayaan diri melampaui ambang batas, namun setelah apa yang dilakukan setelahnya membuat saya berpikir cukup banyak dalam eksistensi pemakaian hijab pada remaja putri.
Jika masih berpendapat, mungkin mereka lagi "kotor", memang wanita kalau lagi "dapat" bisa kompak gitu satu koloni???. Saya lagi malas berkompilasi dengan banyak pendapat mungkin saat itu, tapi semakin ganjeng otak ini karena pada saat saya shalat mereka malah tidak berhenti untuk sekedar tertawa dengan suara yang cukup lantang. Posisi duduk mereka memang tepat disebelah mushalla jadi tak hayal riuh mereka dapat mengganggu kenyamanan peristiwa sakral manusia dengan Tuhannya.
Citra untuk mereka para penikmat hijab secara absah menjadi berkurang dengan adanya mereka yang hanya memakainya untuk sebatas trend masa kini tapi tidak dari dalam kalbu. Saya sendiri sangat menyukai mereka para wanita yang bisa menampilkan diri sebagai muslimah dengan gaya yang sesuai umur namun tidak melupakan tartib pemakaiannya. Itu secara tidak langsung akan memperlihatkan bagaimana kerudung itu bisa sangat nyaman dan bagus jika dipakai dengan benar, tapi lain jika yang terpampang adalah seperti gambaran koloni wanita pertama tadi, bisa jadi pepatah "gara-gara nilai setitik, rusak susu sebelanga" benar adanya.
Jadi teringat pada hal lainnya...
Sudah sering terlihat dengan mata ini bagaimana provinsi yang sering disebut serambinya Negara Suci itu menjaga ketat para warganya dalam berbusana sehari-hari. Tapi belum terpikirkan bagaimana jika kamu yang berada di dalam daerah tersebut merasakan apa yang sedang digembar-gemborkan tidak demikian yang terjadi dalam masyarakat. Kerudung tipis membalut kepala dengan gontai menelaah helai rambut, baju melinkar tipis menyaingi kulit ari berada tepat diseputaran pangkal lengan hingga pergelangannya. Sekarang, style atau tipe-tipe baju seperti itu sedang "in" dikalangan mereka seperti brokat halus tanpa pelapis dan sifon lembut terawang nampang. Suka atau tidak ya begitulah adanya. Tertutup atau tidak ya terima saja untuk melihatnya.
Terkadang terbersit dalam pikiran saya mungkin sebagai warga, mengapa harus memaksakan jika warganya sendiri belum siap untuk menerima kodratnya sebagai hamba. Apa gunanya jika mempercayai kerudung sebagai penutup kepala yang hakiki tapi menjuntaikan rambut dari dalamnya menjadi tren yang makin digemari. Kalau saya lebih baik mereka tidak memakainya sama sekali daripada membuat orang lain berdosa, bukan karena melihat ya, tapi lebih kepada mencela terhadap si pelaku. Stigma yang bermain disini, positif atau negatif ya tergantung nafsu dari yang lihat. Pendapat yang mengatakan kalau tidak di rubah sekarang bagaimana nantinya, dan itu kami mengaturnya dalam setiap peraturan, lah percuma aja diatur dalam peraturan, kalau dirumah yang ngatur sendiri masih berlaku hal yang sebaliknya bukan.
Bukannya tidak menyukai apa yang telah ditetapkan, sangat bangga malah, membuat sesuatu yang biasa menjadi khas didaerahnya dan ini berawal dari kejadian yang tak terduga. Tapi bukankah semuanya harus berasal dari hati masing-masing tanpa paksaan pihak asing.
Sepertinya tertawa membuat segalanya terlihat menakjubkan dan menyedihkan disaat yang bersamaan.
Baik dan yang terbaik itu berbeda bukan.
Jumat, 02 November 2012
Siapa Menjadi Siapa
Titik demi titik berkumpul hingga berkas cahaya mulai terasa dipelupuk yang lebih memadai untuk dikenang. White. Bukan sebagai pahit yang akan terasa di pangkal sebuah rasa tapi sebagai manis yang lebih diinginkan pada permulaan sebuah rasa hingga patut untuk di gemarkan.
Sudah seperti titik keseimbangan dalam purwarupa yang menyiratkan beban kelam dan cahaya. semuanya berkata takkan bisa saling bersama tanpa sebuah pertengkaran tapi sepertinya titik itu tetap tidak bergeming, mungkin satuan perekat terhebat tlah beralas kuat di titik itu hingga lisan dan tulisan tak seperti yang mereka harapkan.
Tentang babak kehidupan yang dimulai dari sebuah percakapan akan rasa. Colour. Rasa dari seluruh indera yang bisa menuang apa yang dirasakan rasa.
Kamu yang mulai mendekati kelamku, dan aku yang mulai mengerti sinarmu.
Gelisahku untuk menujumu.
Karena bingungku akan siapa menjadi siapa?
(Demon or Angel)
3;) ---- (;O
Jumat, 19 Oktober 2012
Bagaimana
Bagaimana mau meraba bintang jika tameng kelam membiaskan cahaya pejamkan mata. Tameng hancur kelam tersisa, cahaya masuk mata terbuka dan bintang teraba. Cahayamu jalanku untuk terang melihat tujuan.
Bagaimana mau tersiram bulan, jika air pemancur buram berpalut busa dan tertahan. Buram tersaring, Pemancur kembali indah, busa menghilang dan halangan mencapai penyelesaian. Halangan hilang meradu bersam harapan sebuah keikhlasan.
Bagaimana bisa menanti hujan, jika rintih pertama datang malah bukan dari sang awan. Seorang gadis tersedu mengisak luka yang tak berwujud, hanya dia temannya yang menyaksikannya. Sang Awan. Melihat jauh kebawah dia merasa malu untuk kembali menurunkan hujan dalam tangis.
Bagaimana bisa menghalau pekat, jika harapan mati menanti semburat. Harapan kembali dengan sinar melebihi semburat, pekat lari tunggang-langgang menjauhi keadaan. Pekat menghalau harapan memasuki dunianya, hingga terjadi dan membahagiakan insan yang mendambakannya.
Bagaimana, jika malam terus menyelimuti masa depan dan menjadikan'a sekedar gantungan bukan tujuan. Masa depan menjadi nyata saat malam berganti siang, tujuan terpatri dan terlihat mata hingga asa tak lagi menggantung di langit sana. Mungkinkah terus bermimpi di terik siang.
5 tweet 'Bagaimana'
Disponsori oleh Sate Padang Takana Juo


