Kamis, 11 April 2013

Arah

"Belok kanan", jangan kaget kalau saya bisa saja langsung belok kiri.
Ya itu saya, entah sejak kapan saya mengidap gejala ini, yang jelas saya sangat susah membedakan antara kiri dan kanan, bukan tidak bisa, tapi sulit jika tidak dibarengi dengan gerak tunjuk.

Dalam keadaan normal seperti saat saya sedang menulis ini, saya masih bisa mengatakan kalau yang kanan itu kanan dan kiri itu kiri, tapi jika kamu menanyakannya saat saya sedang membawa motor atau pertanyaan muncul secara tiba-tiba maafkan sajalah untuk kesalah yang akan bakal tetjadi.

Pernah saat itu saya sedang menunggu mobil jemputan pulan ke kampung halaman, dan kemudian si supir pun menelpon untuk menanyakan alamat lengkap kostan saya.
Saya bersikukuh mengatakan bahwa lorong menuju rumah saya ada di sebelah kiri dari lajur kota, sedangkan si supir sudah sibuk mencari alamat hingga jauh melewati lorong kostan saya dengan gondok nya, mungkin. Namun seketika saya diberitahu adik sendiri kalau lorong kostan berada disebelah kanan, selanjutnya percakapan hanya berakhir dengan kata maaf, jelas dari mulut saya.

Kawan terdekat sudah pada tahu tentang "kekurangan" ini, dan mereka memakluminya, hanya saya saja yang kurang maklum kalau tiba-tiba mereka usil untuk hal ini.

Entah apa nama "penyakit" ini, tapi bukan penyakit juga sih, hanya saja jadi kekurangan juga jika sedang membawa motor dan memboncengi orang yang tidak mengerti akan kekurangan ini, mending kalau dia nya nunjuk arah sekalian dengan gerakan tangan nyata. Kalau tidak, ya tahan-tahan malu saja jika saya tiba-tiba berhenti dan berbalik arah.

Kamis, 07 Februari 2013

Bang Sulam Yang Disana


Entah sejak kapan dia tak muncul lagi di TV tayangan prime time disetiap rumah di Indonesia, saya pun luput dengan kapan tepatnya, saya kira sudah sejak tiga bulan yang lalu dia tak muncul lagi di TV menemani istrinya yang sedang kerepotan mengurus si buah hati.

Saya ingat-ingat, mungkin saat episode terakhirnya muncul di sinetron itu saya sedang berada di luar rumah atau sedang lena dengan tidur malam yang kecepatan karena kelelahan di siang harinya. Jika menanyakan mengapa saya mau nonton sinetron itu?, jawaban ada dua, pertama, karena sinetron tersebut berada pada jam prime time dimana saya baru pulang kantor dan sedikit merebahkan diri sambil berkaca TV, kedua, apa mau dikata jika saluran TV yang tersedia di kostan saya hanyalah RCTI dan TransTV yang sering memutar kisah-kisah nyeleneh tentang hantu dalam balutan jenaka. Tetapi ada hal lain yang saya nikmati dari sinetron ini, yaitu jalan ceritanya yang tidak membosankan dan cenderung seperti nyata dalam kehidupan kita, mungkin itu yang membuat saya betah menontonnya berlama-lama karena terkadang pihak RCTI meng-combine 3 episode dalam sekali tayang.

Dear, H. Sulam kok sudah tidak terlihat lagi ya di sinetron Tukang Bubur Naik Haji!!


Yang terhormat H. Sulam yang katanya sudah melebarkan saya bisnis buburnya di Mekkah sana, saya tetap menanti kok kepulangan bang haji ke Indonesia, apalagi istri bang haji Mpok Rodiyah dan si bayi Alif begitu juga Joni, keluarga yang lain juga kok bang seperti Mang Ojo, Cing Nelam dan Ncum, Cing Mahmud dan Atiqa, Sobari, Robby dan Rumana, Ustad Jakaria dan Ummi Mariam banyak yang lain deh bang, ya tentunya tidak termasuk si Haji 2 kali Muhiddin. H.Muhiddin masih sama dengan yang dulu bang, padahal kan Robby sudah nikah sama Rumana tapi tetap begitu juga sikapnya gak ada yang berubah, mungkin tunggu azab kali ya bang.

Bang Sulam, yang sedang disana jangan khawatir dengan yang di sini, karena yang disini baik-baik aja bang, buktinya sinetron TBNH (red: Tukang Bubur Naik Haji) masih dalam rating teratas di antara sinetron lain pada jam prime time. Semenjak Bang Sulam pergi tetap banyak aja masalah yang datang ke keluarga abang, tapi tetap terselesaikan kok bang, Insya Allah Cing Nelan sama Mang Ojo masih sedia untuk siaga.

Emak juga sudah pergi bang, saya juga gak tahu kemana, episode terakhir yang saya lihat Emak sakit bang jadi diam aja di kamar dan tidak muncul di layar TV, terus kalau gak salah saya ya bang Emak katanya pulang ke kampung mencari ketenangan mungkin.

Mpok Rodiyah sering sekali kangen dengan abang, sampai bercucuran air matanya saat mengingat abang, Mpok Rodiyah maunya abang cepat pulang, biar Alif besar bisa melihat bapaknya.

Usaha disana bagaimana bang? lancar terus kan bang!. Jika sudah bisa ditinggal usahanya, segera balik ya bang, memang TBNH masih bisa jalan tanpa adanya abang tapi kurang gregetnya bang, something missing kalau kata orang-orang londo bang. Abang juga disana cari duit untuk naikin haji siapa lagi bang? kan sekeluarga sudah, abang juga sudah 3 kali, kalahin H. Muhiddin lagi, apa mau naikin haji warga sekampung bang?, kan kalau Robby dan Rumana bisa nyari uang sendiri dengan kerjaan Robby bang.

Warung bubur baik-baik aja bang, Mang Ojo dan Lela tiap hari kerja dengan semangat. Warung obat Cing Nelan juga sudah mulai buka malam hari dan tambah sukses bang.

Bang Mpok titip salam disetiap malam TBNH tayang, mungkin kalau Alif sudah bisa ngomong dia juga bakal rindu abang dan suruh abang cepat pulang.

Saya dan pemirsa dirumah juga sepertinya merindukan sosok gembul Bang Sulam.

Sabtu, 02 Februari 2013

Kamu Kuat

Semoga kamu kuat.

Ku yakin pasti kuat

Perih ku melihatmu merintih tanpa suara, bergidik pun tidak. Ikhlas, sepertinya itu yang ingin kau sampaikan padaku yang mulai miris akan bentukmu yang tidak lagi aduhai seperti dulu.

Dulu, kau bagai manekin pelipur lara di tengah sumpek jalanan kota, tapi kini hanya sebagai tempat sandaran belaka. Lubang yang telah menganga tak dapat tertutup kembali seperti mulanya, kurasa itu yang dikatakan "kenangan buruk akan terus ada hingga kapanpun, yang dibutuhkan hanya rasa ikhlas untuk menerimanya ada". Jika saja kata jerit itu ada dalam kamus permintaan tolong mu, kurasa mereka akan berpikir seratus kali lebih untuk melakukannya kepadamu.

Kamu memang tidak seperti aku, jauh.

Laraku menjadi-jadi saat kau mulai tak segar lagi, hijaumu kini melayu dan aku temenung gagu. Kemana rimbun yang sering kulewati itu? Rimbun yang menghantarku kembali berproses dan pulang menuju rumah. Rimbun yang menahan sedikit lelahku saat terik melanda. Kini hijau menguning kecoklatan, runtuh secara beraturan dan hilang dalam siul buai angin.

Perbedaanmu memang tidak mengena dihati mereka, kecil mencuil, kasat ditatap. Apalah artimu bagi mereka yang melihatmu bukan sebagai makhluk Tuhannya juga. Dunia seperti tidak membutuhkan fungsimu secara biologi melainkan ekonomi, lagi-lagi congkak menjadi yang terbaik bagi mereka.

Aku merindukan harummu, walau tanpa putik dan sari, kau tetap semerbak dibalik terik dan hujan.
Aku merindukan bayangmu, bayang-bayang yang selalu ku hitung keberadaannya ditengah padatnya asap kota.
Aku merindukan tampakmu yang sempurna, tak kurang satu ranting pun.

Tanpa paku yang tertancap meliuk dibatangmu dan tanpa temali yang menjuntai tak indah pada rantingmu.

Pohon Besar Jambo Tape.

Sabtu, 19 Januari 2013

Merugi rasa

Untukmu yang penuh bual canda.
Aku kesepian, hangat sepertinya kurang walau bara tetap berpendar tajam. Dingin menusuk ari dan jauh terus kedalam, aku menggigil.

Tawa hasil candamu kini terasa aneh diotakku, berpikir banyak untuk berekspresi sepertinya bukan menjadi awal yang bagus untuk adegan itu. Kau seperti terkubur pada kata-kata dalam buku jitu merayu wanita.

Ini sudah memuakkan bagiku.
Kurasa, getir kini lebih pahit dari seharusnya.

Cahaya itu tetap masuk dan bersinar dalam rongga-rongga kaca, memantul hingga tempat terjauh. Pantulan itu menyebar, tak lagi satu, kaca itu telah retak, kau hanya tak mengetahuinya atau hanya sekedar tak ingin.

Mimpimu buruk. Aku terjerembab, kau menghampiri.
Aku telah tiada.

Selasa, 01 Januari 2013

Cerita Derita

Tangis mengawali malam

Kamu bercerita tentang pigura yang menahanmu, ada batas yang tak bisa kau acuhkan, ada patri yang tidak bisa kau buka tautnya, dan ada ucapan yng tak bisa kau pelihara perbendaharaannya.

Kamu bercerita tentang langkah yang menahan dalam jejak-jejak kecil, ada tumit yang kaku saat bergontai, ada betis yang tak berbentuk dan hanya sakit yang terasa, dan ada jemari yang terlalu tegang dalam menapak hingga lupa meninggalkan bentuknya.

Seka lembut awan malam

Kamu bercerita tentang dia yang mulai menenangkanmu, dia yang telah mengembalikan senyum yang lama tidak terlihat, dia yang bercerita banyak tentang lebih dari yang kamu punya, dan dia juga yang telah melukis bentuk dengan lebih sempurna pada hatimu dengan kanvas yang lebih mumpuni.

Kamu bercerita tentang dia yang telah menulis bait-bait sajak indah tentang rasa yang sedang berkembang, tentang rasa yang mulai tumbuh kembali pada tempat berbeda, tentang kembang yang mulai menghunuskan baunya pada indra-indra penciuman, dan tentang dia yang memikirkan lebih tentang dirimu lebih daripada.

Tidur pulas rembulan malam

Kamu bercerita tentang perhatian yang lebih, kerinduan yang terbalas, rasa sakit yang tidak pernah ada, malam yang selalu cerah, pagi yang terus bersinar, waktu yang tertata rapi, dan senyum yang selalu merekah dari sudut ke sudutnya.

Pagi siluet senyum.

Selasa, 25 Desember 2012

Buyar (rasa)

Mereka kira ini berjalan baik. Baik seperti apa yang mereka katakan dulu tentang bagaimana mempertahankan rasa hingga benar-benar tahu kalau itu rasa. Lihat, bagaimana kata itu cuma tersusun dari empat huruf namun bisa menghancurkan susunan kata dan sebuah dunia.

Rasa itu sepertinya cukup untuk dicerna dan dihayati agar dimengerti bukan untuk ditelaah kemudian mati dalam mencari arti.

Sok tahu, selalu begitu, padahal bukan mereka yang merasakan. Mereka berkata seakan itu terjadi pada mereka, memberikan nasehat seperti mereka juga pernah mengalami hal yang demikian persis dengan ini. Jangan terlalu pongah untuk saranmu kawan, kalian bukan buku dengan titel question and answer di-cover-nya.

Rasa itu bukan untuk didiamkan dan ditunggu hingga meledak atau mereda hilang, namun untuk diungkapkan dan mengetahui kebenaran.

Meragu itu manusiawi bukan untuk ditertawakan melainkan untuk diteguhkan menuju kepastian. Dan mereka tidak berkata demikian untuk sebuah rasa yang mulai meragu akan jati diri rasa itu sendiri, meruntuh karena cemooh dan membatu karena bual palsu dari banyak masukan.

Rasa ini buyar dalam pembenaran mereka.

Minggu, 09 Desember 2012

Musim Hati

Mendikte dari banyak kata sifat akan literatur kebahagiaan membuatnya terjerat dalam bunga sebuah hati yang kini menemukan pasangannya. Musim semi ini seperti tak ingin terlewatkan, bunga yang tak dikenal sebelumnya seperti teka teki terindah yang malah sayang untuk ditebak. Hati itu telah melekat pada hati lainnya diantara kelopak- kelopak bunga yang merona dengan banyak warna.

Jerat hati itu bernama belahan jiwa.

Menulis aksara demi aksara dan memainkannya dalam kalimat-kalimat romantis dari kiri ke kanan hingga berakhir pada titik dan kemudian memulainya lagi. Tiap paragraf seperti irama musim gugur, saat membacanya, rasa hati seperti sedang menyaksikan dedaunan kuning jatuh mengantri menghampiri jalan setapak.

Dua hati mulai menikmati keberadaan satu sama lainnya.

Membeku, entah kemana semua kata manis yang keluar saat menikmati sebuah es krim lembut itu. Semuanya tinggal harapan dan sedikit penantian yang tak terelakkan. Musim dingin membagi rasa khawatirnya pada tiap hati yang terjaga menunggu belahan lain yang tak kunjung membagi kisah dari tempat yang berbeda. Kini rekahan kutub sudah mulai membias di hatinya.

Ada yang mulai berpikir tentang keberadaan hati bagi dirinya.

Mematri kata tak lagi hitam legam tinta yang menari di atas kertas polos penuh dengan keinginan baik, melainkan pekat merah kental yang menyakitkan keluar dari ujung pena yang menggurat bait-bait nestapa dan mendarat pada kertas hitam penuh coretan yang masih baru. Musim ini lebih panas dari yang seharusnya,

Hati itu sudah gerah dan ingin melepaskan bebannya.

Musim berganti lajur dan memulangkan hati pada bentuknya.
Bentuk merapal doa agar bisa kembali seperti mulanya.
Mula bertaruh asa agar tidak menjalin kisah layak sebelumnya.
Sebelum hati berlanjut duka dan tak percaya akan cinta.