Sabtu, 19 Januari 2013

Merugi rasa

Untukmu yang penuh bual canda.
Aku kesepian, hangat sepertinya kurang walau bara tetap berpendar tajam. Dingin menusuk ari dan jauh terus kedalam, aku menggigil.

Tawa hasil candamu kini terasa aneh diotakku, berpikir banyak untuk berekspresi sepertinya bukan menjadi awal yang bagus untuk adegan itu. Kau seperti terkubur pada kata-kata dalam buku jitu merayu wanita.

Ini sudah memuakkan bagiku.
Kurasa, getir kini lebih pahit dari seharusnya.

Cahaya itu tetap masuk dan bersinar dalam rongga-rongga kaca, memantul hingga tempat terjauh. Pantulan itu menyebar, tak lagi satu, kaca itu telah retak, kau hanya tak mengetahuinya atau hanya sekedar tak ingin.

Mimpimu buruk. Aku terjerembab, kau menghampiri.
Aku telah tiada.

Selasa, 01 Januari 2013

Cerita Derita

Tangis mengawali malam

Kamu bercerita tentang pigura yang menahanmu, ada batas yang tak bisa kau acuhkan, ada patri yang tidak bisa kau buka tautnya, dan ada ucapan yng tak bisa kau pelihara perbendaharaannya.

Kamu bercerita tentang langkah yang menahan dalam jejak-jejak kecil, ada tumit yang kaku saat bergontai, ada betis yang tak berbentuk dan hanya sakit yang terasa, dan ada jemari yang terlalu tegang dalam menapak hingga lupa meninggalkan bentuknya.

Seka lembut awan malam

Kamu bercerita tentang dia yang mulai menenangkanmu, dia yang telah mengembalikan senyum yang lama tidak terlihat, dia yang bercerita banyak tentang lebih dari yang kamu punya, dan dia juga yang telah melukis bentuk dengan lebih sempurna pada hatimu dengan kanvas yang lebih mumpuni.

Kamu bercerita tentang dia yang telah menulis bait-bait sajak indah tentang rasa yang sedang berkembang, tentang rasa yang mulai tumbuh kembali pada tempat berbeda, tentang kembang yang mulai menghunuskan baunya pada indra-indra penciuman, dan tentang dia yang memikirkan lebih tentang dirimu lebih daripada.

Tidur pulas rembulan malam

Kamu bercerita tentang perhatian yang lebih, kerinduan yang terbalas, rasa sakit yang tidak pernah ada, malam yang selalu cerah, pagi yang terus bersinar, waktu yang tertata rapi, dan senyum yang selalu merekah dari sudut ke sudutnya.

Pagi siluet senyum.

Selasa, 25 Desember 2012

Buyar (rasa)

Mereka kira ini berjalan baik. Baik seperti apa yang mereka katakan dulu tentang bagaimana mempertahankan rasa hingga benar-benar tahu kalau itu rasa. Lihat, bagaimana kata itu cuma tersusun dari empat huruf namun bisa menghancurkan susunan kata dan sebuah dunia.

Rasa itu sepertinya cukup untuk dicerna dan dihayati agar dimengerti bukan untuk ditelaah kemudian mati dalam mencari arti.

Sok tahu, selalu begitu, padahal bukan mereka yang merasakan. Mereka berkata seakan itu terjadi pada mereka, memberikan nasehat seperti mereka juga pernah mengalami hal yang demikian persis dengan ini. Jangan terlalu pongah untuk saranmu kawan, kalian bukan buku dengan titel question and answer di-cover-nya.

Rasa itu bukan untuk didiamkan dan ditunggu hingga meledak atau mereda hilang, namun untuk diungkapkan dan mengetahui kebenaran.

Meragu itu manusiawi bukan untuk ditertawakan melainkan untuk diteguhkan menuju kepastian. Dan mereka tidak berkata demikian untuk sebuah rasa yang mulai meragu akan jati diri rasa itu sendiri, meruntuh karena cemooh dan membatu karena bual palsu dari banyak masukan.

Rasa ini buyar dalam pembenaran mereka.

Minggu, 09 Desember 2012

Musim Hati

Mendikte dari banyak kata sifat akan literatur kebahagiaan membuatnya terjerat dalam bunga sebuah hati yang kini menemukan pasangannya. Musim semi ini seperti tak ingin terlewatkan, bunga yang tak dikenal sebelumnya seperti teka teki terindah yang malah sayang untuk ditebak. Hati itu telah melekat pada hati lainnya diantara kelopak- kelopak bunga yang merona dengan banyak warna.

Jerat hati itu bernama belahan jiwa.

Menulis aksara demi aksara dan memainkannya dalam kalimat-kalimat romantis dari kiri ke kanan hingga berakhir pada titik dan kemudian memulainya lagi. Tiap paragraf seperti irama musim gugur, saat membacanya, rasa hati seperti sedang menyaksikan dedaunan kuning jatuh mengantri menghampiri jalan setapak.

Dua hati mulai menikmati keberadaan satu sama lainnya.

Membeku, entah kemana semua kata manis yang keluar saat menikmati sebuah es krim lembut itu. Semuanya tinggal harapan dan sedikit penantian yang tak terelakkan. Musim dingin membagi rasa khawatirnya pada tiap hati yang terjaga menunggu belahan lain yang tak kunjung membagi kisah dari tempat yang berbeda. Kini rekahan kutub sudah mulai membias di hatinya.

Ada yang mulai berpikir tentang keberadaan hati bagi dirinya.

Mematri kata tak lagi hitam legam tinta yang menari di atas kertas polos penuh dengan keinginan baik, melainkan pekat merah kental yang menyakitkan keluar dari ujung pena yang menggurat bait-bait nestapa dan mendarat pada kertas hitam penuh coretan yang masih baru. Musim ini lebih panas dari yang seharusnya,

Hati itu sudah gerah dan ingin melepaskan bebannya.

Musim berganti lajur dan memulangkan hati pada bentuknya.
Bentuk merapal doa agar bisa kembali seperti mulanya.
Mula bertaruh asa agar tidak menjalin kisah layak sebelumnya.
Sebelum hati berlanjut duka dan tak percaya akan cinta.

Jumat, 30 November 2012

Matur Nuwun

Ambil saja
Ku tahu Kau akan menggantinya
Sirnakan
Niscaya Kau tahu yang sepadan
Relakan
Hati ini sudah cukup riskan
Terima
IndahMu pasti adanya

Sukaku bukan untuk mendukaimu
Gamblangku tidak cukup mengajarimu
Tawaku bisik lara bagimu
Hayatku bermimpi pongah denganmu

Kini berdiri saja
Mendengar saja
Bermimpi saja
Kali-kali saja
Bahagia itu ada
Pada waktunya

Pekik mencekik lirik
Sirik menderik larik

Terima untuk apa yang dikasih
Kasih untuk apa yang diterima

Nuhun
Nuwun

Senin, 26 November 2012

Meradu harapan

Dwi warna berpadu satu
Lelah hati menunggu kamu
Harapan ini semua palsu
Air mata berbulir rindu

Tangkup hujan membias cahaya surga
Lini masa mengeja mega suara
Gaung indah bergema raksasa
Peri cantik bermain ria gembira

Selubung kata mengail raga
Mencari aksara di tengah duka
Mencuri paksa sebuah palka
Lubang aib tlah menganga
Rasa mati tak bersisa
Jiwa kandas menampik siksa

Harapan kini membabu
Bukan sejarah tapi menunggu

Rusak saat mengalir
Dengar saat mencibir
Singgung saat melipir
Buta saat menganulir

Menunggu harapan pulang
Relung mengisi sayang
Ada ruang

Sabtu, 24 November 2012

Menunggu untuk disakiti

Lebam terakhir berada tepat di punggung kanannya, itu yang paling berwarna dari yang lainnya. Biru dengan sedikit nila dan bercak merah disekelilingnya, bekas hantaman sebuah benda tumpul yang lumayan keras mengenai punggungnya. Kursi kesayangannya telah patah tak berbentuk, hanya satu batangnya yang masih tertinggal utuh, batang kayu penahan punggung hangatnya saat dia menghabiskan waktu menunggu dia yang datang.

Batang itu juga yang menghantam punggungnya penuh perih suara, dan setidaknya kenangannya akan batang kayu itu bertambah satu lagi di malam itu. Walaupun sebuah kenangan pahit tapi akan membekas selamanya baginya, tidak seperti kenangan manis yang dia rasakan dan terus menghilang.

Aku menyayangimu dengan cukup bertahan.

Kecupan singkat mendarat di kiri sudut bibirnya, tidak tepat memang tapi itu sudah cukup untuknya. Kali ini pagi begitu semerbak dengan ranum putik mawar yang sudah bertengger di samping wajahnya. Lelaki itu telah pergi menuju realita kisahnya dan dia masih terbaring kaku dengan selimut kusutnya serta tumpuk lembaran merah di atas buffet yang lelaki itu tinggalkan.

Sekian lama dia berbaring hanya untuk menguatkan raga dari siksa nikmat semalam, kemudian memilih untuk merenggangkan otot-ototnya dengan membersihkan semua sisa kursi yang hancur berserakan. Batang kayu utuh akan kenangan pun disimpannya dalam celah lemari pakaiannya. Membersihkan diri di bawah pancuran air deras menjadi rutinitas berikutnya, sekaligus berkaca dan menikmati warna-warni kelu sisa kenangan semalam.

Matanya tertuju pada lembar kertas berbeda di atas tumpukan merah pada buffet-nya.
"Beli salep penghilang luka memar. Aku akan ke luar negeri untuk beberapa hari, terima kasih untuk semalam."
Dan surat itu pun berakhir, berakhir pula di tong sampah di kamar itu.

Taxi sudah menunggunya di bawah lobi apartemen, dia pun telah sampai di ambang pintu lobi dengan style necis penuh brand terkenal. Salah satu pegawai apartemen yang sepertinya sudah sangat akrab pun menyapanya.
"Selamat pagi Tuan semoga hari anda menyenangkan."
"Pagi Dopi, kamu juga. Oh ya, tolong kamar saya kamu bersihkan dan ambilkan kursi baru untuk buffet saya." Sembari memberikan beberapa lembaran merah yang diambilnya dari dompet genggamnya, seraya beranjak pergi menuju taxi yang telah menunggunya.
"Terima kasih Tn. Erdan, akan saya selesaikan semua sebelum anda pulang." Dia sudah terbiasa dengan hal itu dan menjadi pelayan favorit Erdan.