Sabtu, 19 Januari 2013

Merugi rasa

Untukmu yang penuh bual canda.
Aku kesepian, hangat sepertinya kurang walau bara tetap berpendar tajam. Dingin menusuk ari dan jauh terus kedalam, aku menggigil.

Tawa hasil candamu kini terasa aneh diotakku, berpikir banyak untuk berekspresi sepertinya bukan menjadi awal yang bagus untuk adegan itu. Kau seperti terkubur pada kata-kata dalam buku jitu merayu wanita.

Ini sudah memuakkan bagiku.
Kurasa, getir kini lebih pahit dari seharusnya.

Cahaya itu tetap masuk dan bersinar dalam rongga-rongga kaca, memantul hingga tempat terjauh. Pantulan itu menyebar, tak lagi satu, kaca itu telah retak, kau hanya tak mengetahuinya atau hanya sekedar tak ingin.

Mimpimu buruk. Aku terjerembab, kau menghampiri.
Aku telah tiada.

Kamis, 17 Januari 2013

Hate It, Without.

Aku membencimu
Membenci kamu yang tak muncul tepat saat ku memejamkan mata. Kau membiarkanku sendiri terdiam duduk dipinggir kotak berpigura kata. Haruskah ku menunggumu lagi di sudut ini, bekas hangatku tertinggal dalam tera yang beraturan. Tak sudikah kau hanya mampir atau sekedar melambaikan tangan dari jarak angan mimpimu. Pejamku perlahan terbuka, bagaimana bisa kau ada tepat disampingku, namun tidak demikian di alam mimpi. Ku kecup keningmu dan perlahan melihat sungging senyum kalbumu.

Aku membencimu
Membenci kamu yang sengaja meninggalkanku dengan tanda tanya besar diakhir kalimat, bukan itu saja, kamu sepertinya sudah terlalu suka membiarkan kalimat-kalimat tanya itu terus menggantung hingga menutup paragraf demi paragraf. Walau titik dua tutup kurung selalu ada di akhir judulnya.

Aku membencimu
Membenci kamu yang terus menggerutu tentang ... kurasa, kau pernah berkata itu nasib. Bagimu nasib itu awan hitam dibalik sabit sang rembulan, menutup tanpa bisa ditebak kapan kebahagiaan bisa dirasa. Gerutumu berulang panjang, aku hampir bosan, kupingku panas, tetapi bukan lelah yang terasa melainkan sebuah senyum lebar, hingga kamu mengakhri gerutumu dengan tawa dan pelukan.

Aku membencimu
Membenci kamu yang hening. Pikiranku terus bertanya-tanya, apa yang kau pikirkan!, adakahku didalamnya!. Kemudian kau hidup dan tersenyum kepadaku, bibirmu mendarat hangat dikeningku. Lega.

Aku membencimu
Membenci kamu yang terus mencintaiku, membenci setiap kata manis yang keluar perlahan dari katup mulutmu, dan membenci kamu yang terus aku cintai.

Hate with Without
Live

Selasa, 01 Januari 2013

Cerita Derita

Tangis mengawali malam

Kamu bercerita tentang pigura yang menahanmu, ada batas yang tak bisa kau acuhkan, ada patri yang tidak bisa kau buka tautnya, dan ada ucapan yng tak bisa kau pelihara perbendaharaannya.

Kamu bercerita tentang langkah yang menahan dalam jejak-jejak kecil, ada tumit yang kaku saat bergontai, ada betis yang tak berbentuk dan hanya sakit yang terasa, dan ada jemari yang terlalu tegang dalam menapak hingga lupa meninggalkan bentuknya.

Seka lembut awan malam

Kamu bercerita tentang dia yang mulai menenangkanmu, dia yang telah mengembalikan senyum yang lama tidak terlihat, dia yang bercerita banyak tentang lebih dari yang kamu punya, dan dia juga yang telah melukis bentuk dengan lebih sempurna pada hatimu dengan kanvas yang lebih mumpuni.

Kamu bercerita tentang dia yang telah menulis bait-bait sajak indah tentang rasa yang sedang berkembang, tentang rasa yang mulai tumbuh kembali pada tempat berbeda, tentang kembang yang mulai menghunuskan baunya pada indra-indra penciuman, dan tentang dia yang memikirkan lebih tentang dirimu lebih daripada.

Tidur pulas rembulan malam

Kamu bercerita tentang perhatian yang lebih, kerinduan yang terbalas, rasa sakit yang tidak pernah ada, malam yang selalu cerah, pagi yang terus bersinar, waktu yang tertata rapi, dan senyum yang selalu merekah dari sudut ke sudutnya.

Pagi siluet senyum.