Kamis, 17 Januari 2013

Hate It, Without.

Aku membencimu
Membenci kamu yang tak muncul tepat saat ku memejamkan mata. Kau membiarkanku sendiri terdiam duduk dipinggir kotak berpigura kata. Haruskah ku menunggumu lagi di sudut ini, bekas hangatku tertinggal dalam tera yang beraturan. Tak sudikah kau hanya mampir atau sekedar melambaikan tangan dari jarak angan mimpimu. Pejamku perlahan terbuka, bagaimana bisa kau ada tepat disampingku, namun tidak demikian di alam mimpi. Ku kecup keningmu dan perlahan melihat sungging senyum kalbumu.

Aku membencimu
Membenci kamu yang sengaja meninggalkanku dengan tanda tanya besar diakhir kalimat, bukan itu saja, kamu sepertinya sudah terlalu suka membiarkan kalimat-kalimat tanya itu terus menggantung hingga menutup paragraf demi paragraf. Walau titik dua tutup kurung selalu ada di akhir judulnya.

Aku membencimu
Membenci kamu yang terus menggerutu tentang ... kurasa, kau pernah berkata itu nasib. Bagimu nasib itu awan hitam dibalik sabit sang rembulan, menutup tanpa bisa ditebak kapan kebahagiaan bisa dirasa. Gerutumu berulang panjang, aku hampir bosan, kupingku panas, tetapi bukan lelah yang terasa melainkan sebuah senyum lebar, hingga kamu mengakhri gerutumu dengan tawa dan pelukan.

Aku membencimu
Membenci kamu yang hening. Pikiranku terus bertanya-tanya, apa yang kau pikirkan!, adakahku didalamnya!. Kemudian kau hidup dan tersenyum kepadaku, bibirmu mendarat hangat dikeningku. Lega.

Aku membencimu
Membenci kamu yang terus mencintaiku, membenci setiap kata manis yang keluar perlahan dari katup mulutmu, dan membenci kamu yang terus aku cintai.

Hate with Without
Live

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar