Selasa, 25 Desember 2012

Buyar (rasa)

Mereka kira ini berjalan baik. Baik seperti apa yang mereka katakan dulu tentang bagaimana mempertahankan rasa hingga benar-benar tahu kalau itu rasa. Lihat, bagaimana kata itu cuma tersusun dari empat huruf namun bisa menghancurkan susunan kata dan sebuah dunia.

Rasa itu sepertinya cukup untuk dicerna dan dihayati agar dimengerti bukan untuk ditelaah kemudian mati dalam mencari arti.

Sok tahu, selalu begitu, padahal bukan mereka yang merasakan. Mereka berkata seakan itu terjadi pada mereka, memberikan nasehat seperti mereka juga pernah mengalami hal yang demikian persis dengan ini. Jangan terlalu pongah untuk saranmu kawan, kalian bukan buku dengan titel question and answer di-cover-nya.

Rasa itu bukan untuk didiamkan dan ditunggu hingga meledak atau mereda hilang, namun untuk diungkapkan dan mengetahui kebenaran.

Meragu itu manusiawi bukan untuk ditertawakan melainkan untuk diteguhkan menuju kepastian. Dan mereka tidak berkata demikian untuk sebuah rasa yang mulai meragu akan jati diri rasa itu sendiri, meruntuh karena cemooh dan membatu karena bual palsu dari banyak masukan.

Rasa ini buyar dalam pembenaran mereka.

Selasa, 11 Desember 2012

Ica Hertati (Air Hujan Pengharapan)

Turun lagi, dengan bongkah rindu terbanyak yang ia miliki.
Mengucur dengan intonasi gerakan yang melambat seperti ingin menghentikan waktu.
Bening, semuanya belum terkontaminasi luka hati.
Hawa itu terus mengingatkan ketabahan tumpuk kubikel sendu.

Tetes pertama
Ia berlari
Tetes kedua
Ia nikmati
Tetes ketiga
Ia berdiam diri dan berpikir, jika bisa hujan ini terus ada hingga ia datang lagi.

Di balik daun di atas tanah basah
Terjepit asa sebuah kehidupan baru, mungkin tanpa rindu
Di sela ranting dekat buah yang matang
Keajaiban bukan ditunggu, tapi bisa diciptakan
Di antara kulit batang yang mengelupas
Kehidupan itu terus berlanjut, tak peduli luka
Di selip akar dan rumput halus
Tujuan itu nyata, dan pertolongan pasti ada

Terlalu membosankan
Hujan berganti badai
Gemuruh bersahut-sahutan
Petir melandai
Genangan menjadi banjir
Indah kini tlah rusak
Bosan sudah mencair
Ia hanya bisa mendangak

Bagaimana dengan harapan
Masih ia disana?
Di antara awan dan langit
Atau pada jarak di antara tetesnya

Mungkin juga Ia yang sudah muak untuk menunggu
Terutama untuk berharap.

Minggu, 09 Desember 2012

Musim Hati

Mendikte dari banyak kata sifat akan literatur kebahagiaan membuatnya terjerat dalam bunga sebuah hati yang kini menemukan pasangannya. Musim semi ini seperti tak ingin terlewatkan, bunga yang tak dikenal sebelumnya seperti teka teki terindah yang malah sayang untuk ditebak. Hati itu telah melekat pada hati lainnya diantara kelopak- kelopak bunga yang merona dengan banyak warna.

Jerat hati itu bernama belahan jiwa.

Menulis aksara demi aksara dan memainkannya dalam kalimat-kalimat romantis dari kiri ke kanan hingga berakhir pada titik dan kemudian memulainya lagi. Tiap paragraf seperti irama musim gugur, saat membacanya, rasa hati seperti sedang menyaksikan dedaunan kuning jatuh mengantri menghampiri jalan setapak.

Dua hati mulai menikmati keberadaan satu sama lainnya.

Membeku, entah kemana semua kata manis yang keluar saat menikmati sebuah es krim lembut itu. Semuanya tinggal harapan dan sedikit penantian yang tak terelakkan. Musim dingin membagi rasa khawatirnya pada tiap hati yang terjaga menunggu belahan lain yang tak kunjung membagi kisah dari tempat yang berbeda. Kini rekahan kutub sudah mulai membias di hatinya.

Ada yang mulai berpikir tentang keberadaan hati bagi dirinya.

Mematri kata tak lagi hitam legam tinta yang menari di atas kertas polos penuh dengan keinginan baik, melainkan pekat merah kental yang menyakitkan keluar dari ujung pena yang menggurat bait-bait nestapa dan mendarat pada kertas hitam penuh coretan yang masih baru. Musim ini lebih panas dari yang seharusnya,

Hati itu sudah gerah dan ingin melepaskan bebannya.

Musim berganti lajur dan memulangkan hati pada bentuknya.
Bentuk merapal doa agar bisa kembali seperti mulanya.
Mula bertaruh asa agar tidak menjalin kisah layak sebelumnya.
Sebelum hati berlanjut duka dan tak percaya akan cinta.