Selasa, 11 Desember 2012

Ica Hertati (Air Hujan Pengharapan)

Turun lagi, dengan bongkah rindu terbanyak yang ia miliki.
Mengucur dengan intonasi gerakan yang melambat seperti ingin menghentikan waktu.
Bening, semuanya belum terkontaminasi luka hati.
Hawa itu terus mengingatkan ketabahan tumpuk kubikel sendu.

Tetes pertama
Ia berlari
Tetes kedua
Ia nikmati
Tetes ketiga
Ia berdiam diri dan berpikir, jika bisa hujan ini terus ada hingga ia datang lagi.

Di balik daun di atas tanah basah
Terjepit asa sebuah kehidupan baru, mungkin tanpa rindu
Di sela ranting dekat buah yang matang
Keajaiban bukan ditunggu, tapi bisa diciptakan
Di antara kulit batang yang mengelupas
Kehidupan itu terus berlanjut, tak peduli luka
Di selip akar dan rumput halus
Tujuan itu nyata, dan pertolongan pasti ada

Terlalu membosankan
Hujan berganti badai
Gemuruh bersahut-sahutan
Petir melandai
Genangan menjadi banjir
Indah kini tlah rusak
Bosan sudah mencair
Ia hanya bisa mendangak

Bagaimana dengan harapan
Masih ia disana?
Di antara awan dan langit
Atau pada jarak di antara tetesnya

Mungkin juga Ia yang sudah muak untuk menunggu
Terutama untuk berharap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar